Latest Posts
Latest Products
//]]>

Semoga kita semua selalu berbahagia dalam pelayanan bhakti

Manfaatkanlah dengan baik setiap detik kehidupan untuk melayani Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna.

Latest Products

HAPPY DAMODARA PUJA, GOVARDAN PUJA, GO PUJA AND DEEPAVALI
(20-OCT-2017)

he krishna karuna-sindho dina-bandho jagat-pate gopesa gopika-kanta radha-kanta namo 'stu te
O Sri Krishna yang hamba cintai, Andalah kawan bagi orang yang berdukacita, Andalah sumber ciptaan. Andalah tuan bagi para gopi dan Andalah yang mencintai Radharani. Hamba bersujud dengan hormat kepada Anda.

Recent Comments

Expandable Comments

MAHANILA STORE (HTTP://MAHANILASTORE.BLOGSPOT.COM)

: Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll. Hubungi Kami di HP/WA: 0812-7740-3909

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)
Terimakasih Telah Berkunjung Ke Website Kami. Kunjungan Anda Berikutnya Sangat Kami Nantikan.

TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGANNYA

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

Saturday, October 21, 2017

KARUNIA DARI SEORANG SADHU


KARUNIA DARI SEORANG SADHU

("Karena terus ingat dengan Tuhan seorang penyembah selalu bahagia")

Seorang sadhu (orang suci) dan muridnya sedang berjalan-jalan melalui sebuah kota. "Marilah kita buat perjalanan ini merupakan suatu pengalaman yang bermakna, kata sadhu itu kepada muridnya. Secara kebutulan Pangeran Kerajaan itu sedang menunggangi kuda putih lewat disamping mereka.

"Salam orang suci, berilah aku berkah Anda", kata pangeran itu. Dengan mengangkat telapak tangannya, sang sadhu menjawab, "Semoga Kau Hidup Selamanya", murid sadhu itu bertanya, guru maharaj, mengapa Engkau memberkahinya untuk hidup selamanya". Sadhu menjawab, "sekarang dia sedang menikmati kehidupan dalam kepuasan indria indria. Dia memburuh binatang sebagai sarana olah raga sehingga apabila dia mati dia akan menderita karena dosa ini. Oleh karena itu yang terbaik baginya adalah hidup selamanya seperti keadaannya sekarang ini".

Tak lama kemudian mereka melihat seorang sisya kerohanian yaitu seorang Brahmacari, berpakaian saffon, meminta minta sedekah untuk guru kerohaniannya. Ketika Sisya itu melihat sang sadhu, dia mencangkup tangannya dan menyampaikan salam hormat. Sebagai jawaban sadhu berkata, "Semoga Kau Mati Segera". Lagi murid bertanya, "mengapa Anda mengutuknya untuk segera mati? Sadhu tertawa, "itu bukanlah kutukan tapi sebuah berkah. Saat ini dia murni dan tak berdosa. Akan tetapi kalau dia terus hidup, masa depannya tidak bisa ditentukan. "Mengapa demikian, "tanya muridnya. "Karena selalu ada bahaya untuk jatuh dalam kehidupan duniawi. Tapi kalau dia mati sekarang pasti dia akan diangkat ke planet-planet yang lebih tinggi".

Ketika mereka mendekati pasar, sang murid menutup hidungnya. Udara berbagu amis berasal dari bangkai binatang yang dikuliti, dipotong berkeping-keping dan digantung didepan toko penjualan daging. Pemilik toko yang berwajah kemerah-merahan memanggil sadhu itu. "Hello, apakah ada berkah untukku hari ini, Sekali lagi sadhu itu mengangkat telapak tangannya, "Ya. Aku berkahi kau, Jangan Mati dan Jangan Hidup". Pemilik tokok daging itu mengguman, "berkah aneh macam apa itu". Setelah meninggalkan pasar itu, muridnya bertanya, "Apa maksud Anda dengan berkah itu". "Tidakkah kau tahu bahwa tukang jagal itu saat inipun dalam keadaan neraka tanya sadhu itu.

Muridnya menganggukkan kepala. Dia telah membunuh begitu banyak binatang yang tak bersalah dan dengan kegiatan itu ia pasti akan ke neraka selama beribu-ribu tahun, jadi dia akan menderita kalau dia hidup atau kalau dia mati".

Berikutnya mereka lewat di sebuah tempat sembahyang (temple) dimana seorang penyembah sedang mempersembahkan doa-doa pujian dengan tulus hati kepada Tuhan penyembah sedang mempersembahkan doa-doa pujian dengan tulus hati kepada Tuhan bahkan penyembah itu tidak menyadari sang sadhu yang sedang mendekat. Namun sadhu itu berkata, "Semoga Kau Hidup atau Semoga Kau Mati". Ijinkanlah saya menebak apa maksud berkah itu. "kata muridnya. "Karena terus ingat dengan Tuhan seorang penyembah selalu bahagia. Dengan demikian tidak ada pebedaan bagi seorang penyembah apakah dia hidup atau mati. Dia akan terus mengingat Tuhan dalam kehidupan ini maupun dalam penjelmaan berikutnya". Dengan tersenyum sadhu itu menjawab,"kau sedang belajar dengan baik".








Mau Beli Buku Bhagavad-gita, Srimad-bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, dll?
Senin - Minggu - Hari Libur | 08.00 - 21.00 WIB | http://mahanilastore.blogspot.com
0812-7740-3909 dan 0819-9108-4996

SMS/PHONE  : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
                       : 0819-9109-9321 (Mahanila)
WhatsApp     : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
BBM               : 5D40CF2D dan D5E8718B

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll.

Terimakasih Atas Kunjungan Anda.


KARUNIA DARI SEORANG SADHU

("Karena terus ingat dengan Tuhan seorang penyembah selalu bahagia")

Seorang sadhu (orang suci) dan muridnya sedang berjalan-jalan melalui sebuah kota. "Marilah kita buat perjalanan ini merupakan suatu pengalaman yang bermakna, kata sadhu itu kepada muridnya. Secara kebutulan Pangeran Kerajaan itu sedang menunggangi kuda putih lewat disamping mereka.

"Salam orang suci, berilah aku berkah Anda", kata pangeran itu. Dengan mengangkat telapak tangannya, sang sadhu menjawab, "Semoga Kau Hidup Selamanya", murid sadhu itu bertanya, guru maharaj, mengapa Engkau memberkahinya untuk hidup selamanya". Sadhu menjawab, "sekarang dia sedang menikmati kehidupan dalam kepuasan indria indria. Dia memburuh binatang sebagai sarana olah raga sehingga apabila dia mati dia akan menderita karena dosa ini. Oleh karena itu yang terbaik baginya adalah hidup selamanya seperti keadaannya sekarang ini".

Tak lama kemudian mereka melihat seorang sisya kerohanian yaitu seorang Brahmacari, berpakaian saffon, meminta minta sedekah untuk guru kerohaniannya. Ketika Sisya itu melihat sang sadhu, dia mencangkup tangannya dan menyampaikan salam hormat. Sebagai jawaban sadhu berkata, "Semoga Kau Mati Segera". Lagi murid bertanya, "mengapa Anda mengutuknya untuk segera mati? Sadhu tertawa, "itu bukanlah kutukan tapi sebuah berkah. Saat ini dia murni dan tak berdosa. Akan tetapi kalau dia terus hidup, masa depannya tidak bisa ditentukan. "Mengapa demikian, "tanya muridnya. "Karena selalu ada bahaya untuk jatuh dalam kehidupan duniawi. Tapi kalau dia mati sekarang pasti dia akan diangkat ke planet-planet yang lebih tinggi".

Ketika mereka mendekati pasar, sang murid menutup hidungnya. Udara berbagu amis berasal dari bangkai binatang yang dikuliti, dipotong berkeping-keping dan digantung didepan toko penjualan daging. Pemilik toko yang berwajah kemerah-merahan memanggil sadhu itu. "Hello, apakah ada berkah untukku hari ini, Sekali lagi sadhu itu mengangkat telapak tangannya, "Ya. Aku berkahi kau, Jangan Mati dan Jangan Hidup". Pemilik tokok daging itu mengguman, "berkah aneh macam apa itu". Setelah meninggalkan pasar itu, muridnya bertanya, "Apa maksud Anda dengan berkah itu". "Tidakkah kau tahu bahwa tukang jagal itu saat inipun dalam keadaan neraka tanya sadhu itu.

Muridnya menganggukkan kepala. Dia telah membunuh begitu banyak binatang yang tak bersalah dan dengan kegiatan itu ia pasti akan ke neraka selama beribu-ribu tahun, jadi dia akan menderita kalau dia hidup atau kalau dia mati".

Berikutnya mereka lewat di sebuah tempat sembahyang (temple) dimana seorang penyembah sedang mempersembahkan doa-doa pujian dengan tulus hati kepada Tuhan penyembah sedang mempersembahkan doa-doa pujian dengan tulus hati kepada Tuhan bahkan penyembah itu tidak menyadari sang sadhu yang sedang mendekat. Namun sadhu itu berkata, "Semoga Kau Hidup atau Semoga Kau Mati". Ijinkanlah saya menebak apa maksud berkah itu. "kata muridnya. "Karena terus ingat dengan Tuhan seorang penyembah selalu bahagia. Dengan demikian tidak ada pebedaan bagi seorang penyembah apakah dia hidup atau mati. Dia akan terus mengingat Tuhan dalam kehidupan ini maupun dalam penjelmaan berikutnya". Dengan tersenyum sadhu itu menjawab,"kau sedang belajar dengan baik".








Mau Beli Buku Bhagavad-gita, Srimad-bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, dll?
Senin - Minggu - Hari Libur | 08.00 - 21.00 WIB | http://mahanilastore.blogspot.com
0812-7740-3909 dan 0819-9108-4996

SMS/PHONE  : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
                       : 0819-9109-9321 (Mahanila)
WhatsApp     : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
BBM               : 5D40CF2D dan D5E8718B

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll.

Terimakasih Atas Kunjungan Anda.

By: Sanatana Dharma Indonesia

BHAGAVAN PARASURAMA








BHAGAVAN PARASURAMA

Adalah seorang raja bernama Gandhi, yang mempunyai seorang putri yang bernama Satyavati, seorang Brahma yang bernama Rcika menimang putri ini untuk dijadikan istrinya. Akan tetapi, baginda raja menganggap Rcika tidak pantas untuk putrinya, oleh karena itu raja berkata kepada Brahma itu, "Tuhan yang baik hati, aku berasal dari dinasty Kusa. Karena kami adalah ksatria bangsawan, maka anda harus memberikan mas kawin kepada putriku. Oleh karena itu bawalah setidak-tidaknya 1.000 ekor kuda yang bersinar seperti sinar bulan dan masing-masing memiliki satu telinga hitam, baik telinga kiri maupun kanan". Dengan tuntutan baginda raja yang seperti ini, Rsi Agung Rcika dapat mengerti isi hati sang raja. Oleh karena itu, dia pergi kepada Deva Varuna untuk meminta 1.000 ekor kuda seperti yang dituntut oleh raja Gandhi. Setelah memberikan kuda-kuda ini, Rsi Rcika menikahi putri raja yang cantik itu. Selanjutnya istri Rcika Muni dan mertua perempuannya masing-masing menginginkan seoerang putra, lalu mereka memohon kepada sang Muni untuk menyiapkan sarana persembahan untuk mendapatkan putra. Dengan demikian Rcika Muni menyiapkan satu pesembahan untuk istrinya dengan mantra brahmana dan satu persembahan untuk mertua perempuannya dengan mantra Ksatria, setelah itu sang Rsi pergi mandi.

Sementara itu, karena Satyavati mengira bahwa persembahan untuk putrinya tentu lebih baik, sehingga dia meminta persembahan yang dimaksud untuk putrinya itu. Oleh karena itu, Satyavati memberikan persembahan untuk dirinya kepada ibunya dan memakan persembahan yang dimaksud untuk ibunya, (mereka saling tukar persembahan dan memakannya). Ketika Rsi Agung Rcika kembali dan mandi dan mengerti apa yang telah terjadi pada saat dia tidak ada dia berkata kepada istrinya, Satyavati, "Kau telah melakukan kesalahan yang besar, putramu akan menjadi Ksatria yang ganas dan kejam, dapat menghukum siapapun saja, dan ibumu akan memperoleh putra putra yang terpelajar dalam pengetahuan rohani". Akan tetapi, Satyavati dapat menenangkan Rcika Muni dengan kata-kata yang lembut. Satyavati mohon kepada suaminya agar putranya tidak menjadi seorang Ksatria yang ganas dan kejam. Rcika Muni menjawab, "Kalau begitu. Cucumu yang akan menjadi Ksatria seperti itu". Setelah beberapa lama, Satyavati pun melahirkan putra yang bernama, Jamdagni. Selanjutnya Satyavati menjadi sungai Kausiki yang suci untuk mensucikan seluruh dunia, dan putranya Jamdagni menikah dengan Renuka, putri Renu. Dari kandungan Renuka, Jamdagni mempunyai banyak putra yang dipimpin oleh Vasuman. Putra termuda bernama Rama atau Parasurama. Para sarjana yang terpelajar menerima Parasurama sebagai inkarnasi Sri Vasudeva, yang menghancurkan dinasty Kartavirya. Parasurama membinasakan semua Ksatria dimuka bumi ini 21 kali. Ketika raja-raja menjadi terlalu sombong karena pengaruh sifat nafsu dan kebodohan, tidak taat kepada dharma dan tidak mengindahkan hukum yang ditetapkan oleh para brahmana, Parasurama membinasakan mereka. Walaupun kesalahan mereka tidak begitu berat, namun Parasurama membunuh mereka untuk mengurangi beban bumi.

Raja Pariksit bertanya pada Sukadeva Gosvami "Kesalahan apa yang dilakukan oleh para Ksatria yang tidak bisa mengendalikan indria-indrianya, kepada Parasurama inkarnasi kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, sehingga beliau menghancurkan dinasti para Ksatria berulang kali ?" Sukadeva Gosvami berkata, "Ksatria terbaik, Kartaviyarjuna, raja dan daerah Maihaya memperoleh 1.000 tangan dengan memuja dattatreya, ekspansi Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Narayana. Dia juga tak terkalahkan dan memperoleh kekuatan indria yang tak terhalangi, ketampanan, pengaruh, kemasyuran, kesaktian bhatin untuk mendapatkan segala kesempurnaan yoga, seperti anima, dan laghima.



Demikianlah setelah penuh kemewahan seperti itu, dia mengembara keseluruh alam semesta tanpa halangan bagaikan angin. Pada suatu hari, ketika sedang menikmati dengan dikelilingi oleh banyak wanita cantik di sungai Narmada, Kartaviyarjuna yang sombong berkalungkan kalungan kemenangan menghentikan aliran sungai itu dengan lengan-lengannya. Karena Kartaviryarjuna mengubah aliran air ke arah yang berlawanan sehingga membanjiri perkemahan Rahvana yang berada di tepi sunga Narvada, dekat kota Mahismati. Kejadian ini tak bisa dipertahankan oleh Rahvana yang berkepala sepuluh yang menganggap dirinya sebagai pahlawan besar. Ketika Rahvana mencoba menghina Kartaviryarjuna di depan wanita cantik itu dan menyerangnya, Kartaviryarjuna dengan mudah menangkapnya dan menyerahkannya kepada penjaga kota Mahismati, bagaikan orang yang menangkap seekor monyet, kemudian melepaskannya tanpa peduli. Pada suatu ketika Kartaviryarjuna sedang mengembara di hutan sunyi dan berburu, dia mendekati kediaman Jamdagni. Rsi Jamdagni yang tekun dalam pertapaan yang keras di hutan menerima sang raja beserta para prajurit menteri dengan baik. Beliau menyediakan segala keperluan untuk menghormati para tamu, karena beliau memiliki seekor sapi Kamdhenu yang dapat menyediakan segala sesuatu. Jamdagni mampu menjamu para pengikut raja dengan pantas dan memberikan mereka makan yang berisi ghee secara mewah. Sang raja merasa heran melihat kemewahan Jamdagni yang hanya memiliki seekor sapi, oleh karena itu raja iri kepada Rsi agung itu. Inilah awal kesalahan raja. Kartaviryarjuna berpikir bahwa Jamdagni lebih kuat dan kaya daripada dirinya karena sang Rsi mempunyai permata dalam bentuk sapi kamadhenu. Oleh karena itu dia dan pengikutnya tidak begitu menghargai penyambutan Rsi Jamdagni.

Malah sebaliknya, mereka menginginkan sapi kamadhenu yang digunakan untuk pelaksanaan korban suci agnihotra itu. Jamdagni lebih kuat daripada Kartaviryarjuna karena Rsi itu melaksanakan agnihotra yajna dengan ghee yang diperoleh dari kamdhenu. Karena sombong atas kekuatan materialnya, Kartaviryarjuna menyuruh anak buahnya untuk mencuri sapi kamadhenu milik Rsi Jamadegni. Dengan demikian, merekapun melarikan sapi kamdhenu beserta anaknya menuju ibu kota kerajaan Kartaviryarjuna, Mahismati. Setelah Kartaviryarjuna lari dengan membawa kamadhenu Parasurama kembali ke asrama. Ketika Parasurama, putra termuda Jamdagni, mendengarkan tindakan Kartaviryarjuna yang nista itu, Beliau menjadi sangat marah bagaikan seekor ular yang diinjak. Lalu beliau mengambil kapaknya yang mengerikan, perisai, busur panah dan tabung berisi anak panah-anak panah. Dengan kemarahan yang berapi-api Parasurama mengejar Kartaviryarjuna, lakasana seekor singa yang mengejar seekor gajah. Ketika Kartaviryarjuna memasuki ibu kota, Mahismati Puri, dia melihat bahwa Parasurama sedang mengejar sambil membawa sebuah kapak, perisai, busur dan anak panah-anak panah. Parasurama mengenakan sebuah kulit rusa hitam, dan ikatan-ikatan rambutnya nampak seperti matahari. Setelah melihat Parasurama seperti itu, Kartaviryarjuna segera memerintahkan pasukannya yang terdiri dari pasukan gajah, kereta kuda, dan tentara pejalan kaki yang bersenjatakan gada, pedang, anak panah, rsti, sataghni sakti dan senjata-senjata lainnya yang serupa untuk menyerang Parasurama. Kartaviryarjuna mengerahkan 17 aksauh ini tentara (1 aksau = 21.870) pasukan kereta dan gajah, 109.305 prajurit pejalan kaki, dan 65.610 pasukan berkuda) untuk menahan Parasurama. Akan tetapi, mereka semua dibunuh oleh Parasurama. Parasurama ahli sekali menghacurkan kekuatan musuh, Beliau bertempur dengan kecepatan pikiran dan angin, menebas musuhnya dengan kapaknya (parasu). Kemanapun Beliau melangkah, musuh-musuhnya berjatuhan, kaki, lengah dan bahu mereka terpotong, kusir mereka terbunuh, kuda-kuda dan gajah-gajah, tunggangan mereka, semuanya mampus. Dengan meggunakan kapak dan anak panah-anak panahnya Parasurama menghancurkan prisai, bendera, burus panah, dan tubuh-tubuh prajurit Kartaviryarjuna, yang berguguran di medan perang membasahi pertiwi dengan darah mereka. Melihat peristiwa ini, Kartaviryarjuna dengan kemarahan yang besar terjun ke medan perang.

Lalu Kartaviryarjuna dengan 1.000 tenaganya secara bersamaan memasang anak panah pada 500 busur untuk membunuh Parasurama. Namun, Parasurama adalah ksatria yang tercanggih, dengan hanya melepaskan anak panah secukupnya pada sebuah busur. Beliau dengan segera mematahkan anak panah dan busur yang berada pada tangan Karyaviryarjuna. Ketika anak panah-anak panahnya hancur berkeping keping, Kartaviryarjuna mencabut pohon-pohon dan bukit dengan tangannya sendiri dan melemparkan kuat kuat untuk membunuh Parasurama. Tetapi Parasurama memotong lengan-lengan Kartaviryarjuna dengan kapanNya, bagaikan orang memotong kepala ular. Selanjutnya Parasurama memenggal kepala Kartaviryarjuna yang seperti puncak sebuah gunung itu. Melihat ayahnya dibunuh, kesepuluh putra Karyaviryarjuna, lari ketakutan. Setelah membinasakan musuh-musuhnya, Parasurama membebaskan sapi kamadhenu dan anaknya, lalu Beliau kembali ke asrama dan memberikan sapi itu kepada ayahNya, Rsi Jamdagni. Parasurama menguraikan tindakannya pada waktu membunuh Kartaviryarjuna kepada ayah dan saudaraNya. Setelah mendengar hal ini, Jamdagni berkata kepada putranya, "O Pahlawan Agung, putraku Parasurama yang tercinta, Engkau telah membunuh raja sebenarnya tidak perlu. Raja merupakan wakil dari semua Deva, oleh karena itu Engkau telah berbuat dosa. Putraku tercinta, kita adalah Brahmana dan dipuja oleh orang umum karena sifat kita yang suka mengampuni. Karena sifat inilah Deva Brahma, Guru kerohanian alam semesta ini mencapai kedudukannya sebagai Brahma. Kewajiban seorang brahmana adalah untuk mengembangkan sikap suka mengampuni, sifat inilah bersinar bagaikan matahari. Kepribadian Tuhan Yang Esa, Hari, puas kepada orang yang suka memberikan maaf/mengampuni. Canaknya Pandita mengatakan bahwa burung cuckoo walaupun hitam, sangat indah karena suaranya yang manis, begitu juga seorang wanita menjadi cantik karena kesucian dan kesetiaannya kepada suaminya dan orang jelek jadi bagus kalau dia terpelajar. Putraku, membunuh raja yang merupakan penguasa yang lebih daripada membunuh seorang Brahmana, tetapi sekarang kalu Engkau menjadi sadar akan Krshna dan menyembah tempat-tempat suci, maka Engkau dapat diampuni dari dosa besar ini".

Sukadeva Gosvami berkata, "Maharaja Pariksit yang baik hatik putra dinasty Kuru, ketika Parasurama diperintahkan seperti ini oleh ayahnya, Beliau segera setuju dan berkata baiklah". Selama setahun penuh Beliau berkeliling tempat-tempat suci. Setelah itu Beliau kembali ke asrama ayahNya.
Pada suatu hari, Renuka, istri Jamdagni pergi ke tepi sungai Gangga untuk mengambil air, pada saat itu dia melihat raja para Gandarva yang terhias dengan kalungan bunga padma dan sedang bermain-main dengan para Apsara (wanita surga) di sungai Gangga, Entah bagaimana dia tertarik dengan raja itu dan lupa bahwa waktu untuk api korban suci telah habis. Renuka takut akan kutukan suaminya. Oleh karena itu, ketika dia pulang dia hanya meletakkan kendi airnya di depan suaminya dan berdiri dengan tangan tercakup. Rsi Agug Jamdagni dapat mengerti perzinahan di dalam pikiran istrinya.

Oleh karena itu, Beliau sangat marah sekali dan memerintahkan putra-putranya, "Putra-putraku, bunuh perempuan berdosa ini !" Namun putra-putranya tidak menjalankan perintah ayahnya. Kemudian Jamdagni memerintahkan putra bungsunya, Parasurama untuk membunuh saudara-saudaranya yang tidak mematuhi perintahnya, dan ibunya yang telah melakuka perzinahan dalam pikirannya. Karena mengetahui kekuatan ayahNya atas pertapaan dan meditasi yang dipaktekannya, Parasurama segera membunuh ibunya dan saudara-saudaranya. Jamdagni, Putra Satyavati, merasa puas terhadap Parasurama dan menawarkan berkat apa yang dimintaNya. Parasurama menjawab, "Hidupkan kembali ibu dan saudara-saudaraku dan agar mereka lupa bahwa yang telah membunuhnya adalah diriku, berilah berkat yang aku minta, "Selanjutnya, atas berkat Jamdagni, ibu dan saudara-saudara Parsurama hidup kembali an mereka merasa bahagia, seolah-olah terbangun dari tidur yang lelap.

O raja Pariksit, putra-putra Kartaviryarjuna tidak pernah merasa bahagia karena mereka selalu ingat akan pembunuhan ayahnya yang dilakukan oleh Parasurama. Pada suatu saat, ketika Parasurama dan saudara-saudara pergi ke hutan, kesempatan ini digunakan oleh putra-putra Kartaviryarjuna untuk mendatangi asrama Jamdagni dan membalas dendam. Oleh karena itu, ketika mereka melihat Jamdagni sedang duduk di samping api untuk melakukan yajna dan sedang bermeditasi kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa mereka menggunakan kesempatan ini untuk membunuhnya. Dengan doa yang memelas Renuka, ibu Parasurama, memohon agar suaminya hidup kembali. Akan tetapi putra-putra Kartaviryarjuna begitu kejam sehingga mereka memenggal kepala Jamdagni dan melarikannya. Sambil meratap dalam kesedihan karena kematian suaminya, Renuka memukuli badannya dan menangis dengan keras, "O Rama, O Anakku" mereka bergegas kembali ke asrama, dan melihat bahwa ayahnya telah terbunuh. Dibingungkan oleh rasa sedih, marah, berang, dan ratapan, putra-putra Jamdagni menangis, "O ayah, kepribadian yang suci, Anda telah meninggalkan kami dan pergi ke planet surga. Parasurama mempercayakan mayat ayahNya kepada saudara-saudaranya lalu Beliau mengambil kapaknya dan memutuskan untuk menghabisi semua ksatria di muka bumi ini. Kemudian Parasurama pergi ke Mahismati, kota terhukum oleh dosa pembunuhnan seorang Brahmana. Di tengah-tengah kota itu Beliau membuat sebuah gunung kepala yang lepas dari badan anak-anak Kartaviryarjuna. Dengan darah-darah anak ini, Parasurama menciptakan sebuah sungai darah yang mengerikan menggemetarkan bagi raja-raja yang tidak menghormati peradaban brahmana. Karena para ksatria melakukan kegiatan yang penuh dosa, Parasurama untuk membalas dendan atas kematian ayahNya, menghancurkan semua ksatria yang ada di muka bumi ini 21 kali. Memang, di tempat yang bernama Samanta Pancaka Beliau menciptakan 9 danau yang berisi darah-darah mereka. Kemudian, Parsurama menggabungkan kepala dengan badan ayaNya dan meletakkan di atas rumput kusa.

Dengan mempersembahkan korban suci, Beliau mulai memuja Vasudeva, roh yang paling utama yang berada dimana-dimana. Setelah menyelesaikan korban suci ini Parasurama memberikan arah timur kepala hota, selatan kepala brahma, barat kepala advaryu, utara kepala udgata. 4 arah lagi kepada pendeta lainnya (hota, brahma, advaryu, dan udgata adalah nama-nama pendeta-pendeta yang melaksanakan yajna). Beliau memberikan arah tengah kepada Kasyapa dan tempat yang bernama Aryavarta (tempat diantara gunung Himalaya dan bukit Vindhya). Apapun yang masih tersisa Beliau berikan kepada para sadasnya, rekan-rekan para pendeta.

Setelah melaksanakan ritual korban suci ini, Parasurama lalu mandi yang disebut dengan avabharta anana, dengan berdiri di tepi sungai Sarasavti, bebas dari segala dosa. Parasurama nampak seperti matahari di angkasa yang berawan. Demikianlah, Jamdagni dihidupkan kembali oleh Parasurama seperti sediakala, dan Jamdagni menjadi salah seorang dari 7 Rsi dalam kelompok 7 bintang (7 rsi : Kasyapa, Atri, Vasistha, Vismamitra, Gautama, Jamdagni, dan Bhardvaja). O Raja Pariksit, pada man-vatara berikutnya. Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Parasurama yang bermata bagaikan bunga padma, putra Jamdagni, akan menjadi terpelajar dalam pengetahuan Veda, dengan kata lain Beliau akan menjadi salah satu dari 7 Rsi. Sekarang Parasurama masing tinggal di pegunungan yang bernama Mahendra, seorang brahmana yang cerdas. Setelah meninggalkan senjata-senjata sebagai seorang ksatria Beliau puas sepenuhnya. Para penduduk surga seperti para Siddha, Carana dan Gandharva selalu memuja dan memuji watak dan kegiatan Beliau yang mulia.

Dengan cara seperti ini, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Pengendali Yang Paling Utama berinkarnasi pada dinasty Bhrgu dan membebaskan alam semesta terhadap beban raja-raja yang tidak diperlukan dengan membinasakan mereka berkali-kali.*



Catatan:
Asta Aiswarya berasal dari bahasa sanskerta, yakni dari kata Asta yang artinya delapan, dan kata Aiswarya yang berarti kemahakuasaan (Midastra, 2007: 2). Dengan demikian Asta Aiswarya mengandung arti Delapan sifat kemahakuasaan Tuhan.

Adapun pembagian dari Asta Aiswarya ATAU Asta Sakti seperti dijelaskan dalam kitab Wrhaspati tattwa sloka 66 adalah sebagai berikut (Bantas 2000;41):

1. Anima
Kesaktian Tuhan yang disebut Anima atau Anu" yang berarti "atom". Anima dari Asta Aiswarya ialah sifat yang halus bagaikan kehalusan atom yang dimiliki oleh Tuhan

2. Laghima
Kesaktian Tuhan yang disebut Laghima. Laghima berasal dari kata "Laghu" yang artinya ringan. Laghima berarti sifat- Nya yang amat ringan lebih ringan dari ether dalam unsur panca mahabhuta.

3. Mahima
Kesaktian Tuhan yang disebut Mahima, Mahima berasal dari kata "Maha" yang berarti Maha Besar, di sini berarti Tuhan meliputi semua tempat. Tidak ada tempat yang kosong (hampa) bagi- Nya, semua ruang angkasa dipenuhi.

4. Prapti
Kesaktian Tuhan yang disebut Prapti, Prapti berasal dari "Prapta" yang artinya tercapai. Prapti segala tempat tercapai oleh- Nya, ke mana Ia hendak pergi di sana Ia telah ada.

5. Prakamya
Kesaktian Tuhan yang disebut Prakamya, Prakamya berasal dari kata "Pra Kama" berarti segala kehendak- Nya selalu terlaksana atau terjadi.

6. Isitwa
Kesaktian Tuhan yang disebut Isitwa, Isitwa berasal dari kata "Isa" yang berarti raja, Isitwa berarti merajai segala- galanya, dalam segala hal paling utama.

7. Wasitwa
Kesaktian Tuhan yang disebut Wasitwa, Wasitwa berasal dari kata "Wasa" yang berarti menguasai dan mengatasi. Wasitwa artinya paling berkuasa. Yatrakamawasayitwa berarti tidak ada yang dapat menentang kehendak dan kodrat- Nya.

8. Yatrakamawasayitwa
Kesaktian Tuhan yang disebut Yatrakamawasayitwa berarti tidak ada yang dapat menentang kehendak dan kodrat- Nya.







Mau Beli Buku Bhagavad-gita, Srimad-bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, dll?
Senin - Minggu - Hari Libur | 08.00 - 21.00 WIB | http://mahanilastore.blogspot.com
0812-7740-3909 dan 0819-9108-4996

SMS/PHONE  : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
                       : 0819-9109-9321 (Mahanila)
WhatsApp     : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
BBM               : 5D40CF2D dan D5E8718B

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll.

Terimakasih Atas Kunjungan Anda.








BHAGAVAN PARASURAMA

Adalah seorang raja bernama Gandhi, yang mempunyai seorang putri yang bernama Satyavati, seorang Brahma yang bernama Rcika menimang putri ini untuk dijadikan istrinya. Akan tetapi, baginda raja menganggap Rcika tidak pantas untuk putrinya, oleh karena itu raja berkata kepada Brahma itu, "Tuhan yang baik hati, aku berasal dari dinasty Kusa. Karena kami adalah ksatria bangsawan, maka anda harus memberikan mas kawin kepada putriku. Oleh karena itu bawalah setidak-tidaknya 1.000 ekor kuda yang bersinar seperti sinar bulan dan masing-masing memiliki satu telinga hitam, baik telinga kiri maupun kanan". Dengan tuntutan baginda raja yang seperti ini, Rsi Agung Rcika dapat mengerti isi hati sang raja. Oleh karena itu, dia pergi kepada Deva Varuna untuk meminta 1.000 ekor kuda seperti yang dituntut oleh raja Gandhi. Setelah memberikan kuda-kuda ini, Rsi Rcika menikahi putri raja yang cantik itu. Selanjutnya istri Rcika Muni dan mertua perempuannya masing-masing menginginkan seoerang putra, lalu mereka memohon kepada sang Muni untuk menyiapkan sarana persembahan untuk mendapatkan putra. Dengan demikian Rcika Muni menyiapkan satu pesembahan untuk istrinya dengan mantra brahmana dan satu persembahan untuk mertua perempuannya dengan mantra Ksatria, setelah itu sang Rsi pergi mandi.

Sementara itu, karena Satyavati mengira bahwa persembahan untuk putrinya tentu lebih baik, sehingga dia meminta persembahan yang dimaksud untuk putrinya itu. Oleh karena itu, Satyavati memberikan persembahan untuk dirinya kepada ibunya dan memakan persembahan yang dimaksud untuk ibunya, (mereka saling tukar persembahan dan memakannya). Ketika Rsi Agung Rcika kembali dan mandi dan mengerti apa yang telah terjadi pada saat dia tidak ada dia berkata kepada istrinya, Satyavati, "Kau telah melakukan kesalahan yang besar, putramu akan menjadi Ksatria yang ganas dan kejam, dapat menghukum siapapun saja, dan ibumu akan memperoleh putra putra yang terpelajar dalam pengetahuan rohani". Akan tetapi, Satyavati dapat menenangkan Rcika Muni dengan kata-kata yang lembut. Satyavati mohon kepada suaminya agar putranya tidak menjadi seorang Ksatria yang ganas dan kejam. Rcika Muni menjawab, "Kalau begitu. Cucumu yang akan menjadi Ksatria seperti itu". Setelah beberapa lama, Satyavati pun melahirkan putra yang bernama, Jamdagni. Selanjutnya Satyavati menjadi sungai Kausiki yang suci untuk mensucikan seluruh dunia, dan putranya Jamdagni menikah dengan Renuka, putri Renu. Dari kandungan Renuka, Jamdagni mempunyai banyak putra yang dipimpin oleh Vasuman. Putra termuda bernama Rama atau Parasurama. Para sarjana yang terpelajar menerima Parasurama sebagai inkarnasi Sri Vasudeva, yang menghancurkan dinasty Kartavirya. Parasurama membinasakan semua Ksatria dimuka bumi ini 21 kali. Ketika raja-raja menjadi terlalu sombong karena pengaruh sifat nafsu dan kebodohan, tidak taat kepada dharma dan tidak mengindahkan hukum yang ditetapkan oleh para brahmana, Parasurama membinasakan mereka. Walaupun kesalahan mereka tidak begitu berat, namun Parasurama membunuh mereka untuk mengurangi beban bumi.

Raja Pariksit bertanya pada Sukadeva Gosvami "Kesalahan apa yang dilakukan oleh para Ksatria yang tidak bisa mengendalikan indria-indrianya, kepada Parasurama inkarnasi kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, sehingga beliau menghancurkan dinasti para Ksatria berulang kali ?" Sukadeva Gosvami berkata, "Ksatria terbaik, Kartaviyarjuna, raja dan daerah Maihaya memperoleh 1.000 tangan dengan memuja dattatreya, ekspansi Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Narayana. Dia juga tak terkalahkan dan memperoleh kekuatan indria yang tak terhalangi, ketampanan, pengaruh, kemasyuran, kesaktian bhatin untuk mendapatkan segala kesempurnaan yoga, seperti anima, dan laghima.



Demikianlah setelah penuh kemewahan seperti itu, dia mengembara keseluruh alam semesta tanpa halangan bagaikan angin. Pada suatu hari, ketika sedang menikmati dengan dikelilingi oleh banyak wanita cantik di sungai Narmada, Kartaviyarjuna yang sombong berkalungkan kalungan kemenangan menghentikan aliran sungai itu dengan lengan-lengannya. Karena Kartaviryarjuna mengubah aliran air ke arah yang berlawanan sehingga membanjiri perkemahan Rahvana yang berada di tepi sunga Narvada, dekat kota Mahismati. Kejadian ini tak bisa dipertahankan oleh Rahvana yang berkepala sepuluh yang menganggap dirinya sebagai pahlawan besar. Ketika Rahvana mencoba menghina Kartaviryarjuna di depan wanita cantik itu dan menyerangnya, Kartaviryarjuna dengan mudah menangkapnya dan menyerahkannya kepada penjaga kota Mahismati, bagaikan orang yang menangkap seekor monyet, kemudian melepaskannya tanpa peduli. Pada suatu ketika Kartaviryarjuna sedang mengembara di hutan sunyi dan berburu, dia mendekati kediaman Jamdagni. Rsi Jamdagni yang tekun dalam pertapaan yang keras di hutan menerima sang raja beserta para prajurit menteri dengan baik. Beliau menyediakan segala keperluan untuk menghormati para tamu, karena beliau memiliki seekor sapi Kamdhenu yang dapat menyediakan segala sesuatu. Jamdagni mampu menjamu para pengikut raja dengan pantas dan memberikan mereka makan yang berisi ghee secara mewah. Sang raja merasa heran melihat kemewahan Jamdagni yang hanya memiliki seekor sapi, oleh karena itu raja iri kepada Rsi agung itu. Inilah awal kesalahan raja. Kartaviryarjuna berpikir bahwa Jamdagni lebih kuat dan kaya daripada dirinya karena sang Rsi mempunyai permata dalam bentuk sapi kamadhenu. Oleh karena itu dia dan pengikutnya tidak begitu menghargai penyambutan Rsi Jamdagni.

Malah sebaliknya, mereka menginginkan sapi kamadhenu yang digunakan untuk pelaksanaan korban suci agnihotra itu. Jamdagni lebih kuat daripada Kartaviryarjuna karena Rsi itu melaksanakan agnihotra yajna dengan ghee yang diperoleh dari kamdhenu. Karena sombong atas kekuatan materialnya, Kartaviryarjuna menyuruh anak buahnya untuk mencuri sapi kamadhenu milik Rsi Jamadegni. Dengan demikian, merekapun melarikan sapi kamdhenu beserta anaknya menuju ibu kota kerajaan Kartaviryarjuna, Mahismati. Setelah Kartaviryarjuna lari dengan membawa kamadhenu Parasurama kembali ke asrama. Ketika Parasurama, putra termuda Jamdagni, mendengarkan tindakan Kartaviryarjuna yang nista itu, Beliau menjadi sangat marah bagaikan seekor ular yang diinjak. Lalu beliau mengambil kapaknya yang mengerikan, perisai, busur panah dan tabung berisi anak panah-anak panah. Dengan kemarahan yang berapi-api Parasurama mengejar Kartaviryarjuna, lakasana seekor singa yang mengejar seekor gajah. Ketika Kartaviryarjuna memasuki ibu kota, Mahismati Puri, dia melihat bahwa Parasurama sedang mengejar sambil membawa sebuah kapak, perisai, busur dan anak panah-anak panah. Parasurama mengenakan sebuah kulit rusa hitam, dan ikatan-ikatan rambutnya nampak seperti matahari. Setelah melihat Parasurama seperti itu, Kartaviryarjuna segera memerintahkan pasukannya yang terdiri dari pasukan gajah, kereta kuda, dan tentara pejalan kaki yang bersenjatakan gada, pedang, anak panah, rsti, sataghni sakti dan senjata-senjata lainnya yang serupa untuk menyerang Parasurama. Kartaviryarjuna mengerahkan 17 aksauh ini tentara (1 aksau = 21.870) pasukan kereta dan gajah, 109.305 prajurit pejalan kaki, dan 65.610 pasukan berkuda) untuk menahan Parasurama. Akan tetapi, mereka semua dibunuh oleh Parasurama. Parasurama ahli sekali menghacurkan kekuatan musuh, Beliau bertempur dengan kecepatan pikiran dan angin, menebas musuhnya dengan kapaknya (parasu). Kemanapun Beliau melangkah, musuh-musuhnya berjatuhan, kaki, lengah dan bahu mereka terpotong, kusir mereka terbunuh, kuda-kuda dan gajah-gajah, tunggangan mereka, semuanya mampus. Dengan meggunakan kapak dan anak panah-anak panahnya Parasurama menghancurkan prisai, bendera, burus panah, dan tubuh-tubuh prajurit Kartaviryarjuna, yang berguguran di medan perang membasahi pertiwi dengan darah mereka. Melihat peristiwa ini, Kartaviryarjuna dengan kemarahan yang besar terjun ke medan perang.

Lalu Kartaviryarjuna dengan 1.000 tenaganya secara bersamaan memasang anak panah pada 500 busur untuk membunuh Parasurama. Namun, Parasurama adalah ksatria yang tercanggih, dengan hanya melepaskan anak panah secukupnya pada sebuah busur. Beliau dengan segera mematahkan anak panah dan busur yang berada pada tangan Karyaviryarjuna. Ketika anak panah-anak panahnya hancur berkeping keping, Kartaviryarjuna mencabut pohon-pohon dan bukit dengan tangannya sendiri dan melemparkan kuat kuat untuk membunuh Parasurama. Tetapi Parasurama memotong lengan-lengan Kartaviryarjuna dengan kapanNya, bagaikan orang memotong kepala ular. Selanjutnya Parasurama memenggal kepala Kartaviryarjuna yang seperti puncak sebuah gunung itu. Melihat ayahnya dibunuh, kesepuluh putra Karyaviryarjuna, lari ketakutan. Setelah membinasakan musuh-musuhnya, Parasurama membebaskan sapi kamadhenu dan anaknya, lalu Beliau kembali ke asrama dan memberikan sapi itu kepada ayahNya, Rsi Jamdagni. Parasurama menguraikan tindakannya pada waktu membunuh Kartaviryarjuna kepada ayah dan saudaraNya. Setelah mendengar hal ini, Jamdagni berkata kepada putranya, "O Pahlawan Agung, putraku Parasurama yang tercinta, Engkau telah membunuh raja sebenarnya tidak perlu. Raja merupakan wakil dari semua Deva, oleh karena itu Engkau telah berbuat dosa. Putraku tercinta, kita adalah Brahmana dan dipuja oleh orang umum karena sifat kita yang suka mengampuni. Karena sifat inilah Deva Brahma, Guru kerohanian alam semesta ini mencapai kedudukannya sebagai Brahma. Kewajiban seorang brahmana adalah untuk mengembangkan sikap suka mengampuni, sifat inilah bersinar bagaikan matahari. Kepribadian Tuhan Yang Esa, Hari, puas kepada orang yang suka memberikan maaf/mengampuni. Canaknya Pandita mengatakan bahwa burung cuckoo walaupun hitam, sangat indah karena suaranya yang manis, begitu juga seorang wanita menjadi cantik karena kesucian dan kesetiaannya kepada suaminya dan orang jelek jadi bagus kalau dia terpelajar. Putraku, membunuh raja yang merupakan penguasa yang lebih daripada membunuh seorang Brahmana, tetapi sekarang kalu Engkau menjadi sadar akan Krshna dan menyembah tempat-tempat suci, maka Engkau dapat diampuni dari dosa besar ini".

Sukadeva Gosvami berkata, "Maharaja Pariksit yang baik hatik putra dinasty Kuru, ketika Parasurama diperintahkan seperti ini oleh ayahnya, Beliau segera setuju dan berkata baiklah". Selama setahun penuh Beliau berkeliling tempat-tempat suci. Setelah itu Beliau kembali ke asrama ayahNya.
Pada suatu hari, Renuka, istri Jamdagni pergi ke tepi sungai Gangga untuk mengambil air, pada saat itu dia melihat raja para Gandarva yang terhias dengan kalungan bunga padma dan sedang bermain-main dengan para Apsara (wanita surga) di sungai Gangga, Entah bagaimana dia tertarik dengan raja itu dan lupa bahwa waktu untuk api korban suci telah habis. Renuka takut akan kutukan suaminya. Oleh karena itu, ketika dia pulang dia hanya meletakkan kendi airnya di depan suaminya dan berdiri dengan tangan tercakup. Rsi Agug Jamdagni dapat mengerti perzinahan di dalam pikiran istrinya.

Oleh karena itu, Beliau sangat marah sekali dan memerintahkan putra-putranya, "Putra-putraku, bunuh perempuan berdosa ini !" Namun putra-putranya tidak menjalankan perintah ayahnya. Kemudian Jamdagni memerintahkan putra bungsunya, Parasurama untuk membunuh saudara-saudaranya yang tidak mematuhi perintahnya, dan ibunya yang telah melakuka perzinahan dalam pikirannya. Karena mengetahui kekuatan ayahNya atas pertapaan dan meditasi yang dipaktekannya, Parasurama segera membunuh ibunya dan saudara-saudaranya. Jamdagni, Putra Satyavati, merasa puas terhadap Parasurama dan menawarkan berkat apa yang dimintaNya. Parasurama menjawab, "Hidupkan kembali ibu dan saudara-saudaraku dan agar mereka lupa bahwa yang telah membunuhnya adalah diriku, berilah berkat yang aku minta, "Selanjutnya, atas berkat Jamdagni, ibu dan saudara-saudara Parsurama hidup kembali an mereka merasa bahagia, seolah-olah terbangun dari tidur yang lelap.

O raja Pariksit, putra-putra Kartaviryarjuna tidak pernah merasa bahagia karena mereka selalu ingat akan pembunuhan ayahnya yang dilakukan oleh Parasurama. Pada suatu saat, ketika Parasurama dan saudara-saudara pergi ke hutan, kesempatan ini digunakan oleh putra-putra Kartaviryarjuna untuk mendatangi asrama Jamdagni dan membalas dendam. Oleh karena itu, ketika mereka melihat Jamdagni sedang duduk di samping api untuk melakukan yajna dan sedang bermeditasi kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa mereka menggunakan kesempatan ini untuk membunuhnya. Dengan doa yang memelas Renuka, ibu Parasurama, memohon agar suaminya hidup kembali. Akan tetapi putra-putra Kartaviryarjuna begitu kejam sehingga mereka memenggal kepala Jamdagni dan melarikannya. Sambil meratap dalam kesedihan karena kematian suaminya, Renuka memukuli badannya dan menangis dengan keras, "O Rama, O Anakku" mereka bergegas kembali ke asrama, dan melihat bahwa ayahnya telah terbunuh. Dibingungkan oleh rasa sedih, marah, berang, dan ratapan, putra-putra Jamdagni menangis, "O ayah, kepribadian yang suci, Anda telah meninggalkan kami dan pergi ke planet surga. Parasurama mempercayakan mayat ayahNya kepada saudara-saudaranya lalu Beliau mengambil kapaknya dan memutuskan untuk menghabisi semua ksatria di muka bumi ini. Kemudian Parasurama pergi ke Mahismati, kota terhukum oleh dosa pembunuhnan seorang Brahmana. Di tengah-tengah kota itu Beliau membuat sebuah gunung kepala yang lepas dari badan anak-anak Kartaviryarjuna. Dengan darah-darah anak ini, Parasurama menciptakan sebuah sungai darah yang mengerikan menggemetarkan bagi raja-raja yang tidak menghormati peradaban brahmana. Karena para ksatria melakukan kegiatan yang penuh dosa, Parasurama untuk membalas dendan atas kematian ayahNya, menghancurkan semua ksatria yang ada di muka bumi ini 21 kali. Memang, di tempat yang bernama Samanta Pancaka Beliau menciptakan 9 danau yang berisi darah-darah mereka. Kemudian, Parsurama menggabungkan kepala dengan badan ayaNya dan meletakkan di atas rumput kusa.

Dengan mempersembahkan korban suci, Beliau mulai memuja Vasudeva, roh yang paling utama yang berada dimana-dimana. Setelah menyelesaikan korban suci ini Parasurama memberikan arah timur kepala hota, selatan kepala brahma, barat kepala advaryu, utara kepala udgata. 4 arah lagi kepada pendeta lainnya (hota, brahma, advaryu, dan udgata adalah nama-nama pendeta-pendeta yang melaksanakan yajna). Beliau memberikan arah tengah kepada Kasyapa dan tempat yang bernama Aryavarta (tempat diantara gunung Himalaya dan bukit Vindhya). Apapun yang masih tersisa Beliau berikan kepada para sadasnya, rekan-rekan para pendeta.

Setelah melaksanakan ritual korban suci ini, Parasurama lalu mandi yang disebut dengan avabharta anana, dengan berdiri di tepi sungai Sarasavti, bebas dari segala dosa. Parasurama nampak seperti matahari di angkasa yang berawan. Demikianlah, Jamdagni dihidupkan kembali oleh Parasurama seperti sediakala, dan Jamdagni menjadi salah seorang dari 7 Rsi dalam kelompok 7 bintang (7 rsi : Kasyapa, Atri, Vasistha, Vismamitra, Gautama, Jamdagni, dan Bhardvaja). O Raja Pariksit, pada man-vatara berikutnya. Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Parasurama yang bermata bagaikan bunga padma, putra Jamdagni, akan menjadi terpelajar dalam pengetahuan Veda, dengan kata lain Beliau akan menjadi salah satu dari 7 Rsi. Sekarang Parasurama masing tinggal di pegunungan yang bernama Mahendra, seorang brahmana yang cerdas. Setelah meninggalkan senjata-senjata sebagai seorang ksatria Beliau puas sepenuhnya. Para penduduk surga seperti para Siddha, Carana dan Gandharva selalu memuja dan memuji watak dan kegiatan Beliau yang mulia.

Dengan cara seperti ini, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Pengendali Yang Paling Utama berinkarnasi pada dinasty Bhrgu dan membebaskan alam semesta terhadap beban raja-raja yang tidak diperlukan dengan membinasakan mereka berkali-kali.*



Catatan:
Asta Aiswarya berasal dari bahasa sanskerta, yakni dari kata Asta yang artinya delapan, dan kata Aiswarya yang berarti kemahakuasaan (Midastra, 2007: 2). Dengan demikian Asta Aiswarya mengandung arti Delapan sifat kemahakuasaan Tuhan.

Adapun pembagian dari Asta Aiswarya ATAU Asta Sakti seperti dijelaskan dalam kitab Wrhaspati tattwa sloka 66 adalah sebagai berikut (Bantas 2000;41):

1. Anima
Kesaktian Tuhan yang disebut Anima atau Anu" yang berarti "atom". Anima dari Asta Aiswarya ialah sifat yang halus bagaikan kehalusan atom yang dimiliki oleh Tuhan

2. Laghima
Kesaktian Tuhan yang disebut Laghima. Laghima berasal dari kata "Laghu" yang artinya ringan. Laghima berarti sifat- Nya yang amat ringan lebih ringan dari ether dalam unsur panca mahabhuta.

3. Mahima
Kesaktian Tuhan yang disebut Mahima, Mahima berasal dari kata "Maha" yang berarti Maha Besar, di sini berarti Tuhan meliputi semua tempat. Tidak ada tempat yang kosong (hampa) bagi- Nya, semua ruang angkasa dipenuhi.

4. Prapti
Kesaktian Tuhan yang disebut Prapti, Prapti berasal dari "Prapta" yang artinya tercapai. Prapti segala tempat tercapai oleh- Nya, ke mana Ia hendak pergi di sana Ia telah ada.

5. Prakamya
Kesaktian Tuhan yang disebut Prakamya, Prakamya berasal dari kata "Pra Kama" berarti segala kehendak- Nya selalu terlaksana atau terjadi.

6. Isitwa
Kesaktian Tuhan yang disebut Isitwa, Isitwa berasal dari kata "Isa" yang berarti raja, Isitwa berarti merajai segala- galanya, dalam segala hal paling utama.

7. Wasitwa
Kesaktian Tuhan yang disebut Wasitwa, Wasitwa berasal dari kata "Wasa" yang berarti menguasai dan mengatasi. Wasitwa artinya paling berkuasa. Yatrakamawasayitwa berarti tidak ada yang dapat menentang kehendak dan kodrat- Nya.

8. Yatrakamawasayitwa
Kesaktian Tuhan yang disebut Yatrakamawasayitwa berarti tidak ada yang dapat menentang kehendak dan kodrat- Nya.







Mau Beli Buku Bhagavad-gita, Srimad-bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, dll?
Senin - Minggu - Hari Libur | 08.00 - 21.00 WIB | http://mahanilastore.blogspot.com
0812-7740-3909 dan 0819-9108-4996

SMS/PHONE  : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
                       : 0819-9109-9321 (Mahanila)
WhatsApp     : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
BBM               : 5D40CF2D dan D5E8718B

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll.

Terimakasih Atas Kunjungan Anda.

By: Sanatana Dharma Indonesia

NARADA MUNI DAN MARGARI (SANG PEMBURU)




NARADA MUNI DAN MARGARI (SANG PEMBURU)

("mam sah khadati iti mansah artinya, sekarang aku makan daging binatang yang pada suatu hari nanti akan makan dagingku.")

Pada suatu hari, setelah mengunjungi Narayana di Vaikuntha, Rsi mulia Narada pergi ke Prayaga untuk mandi di pertemuan tiga sungai yaitu : Gangga, Yamuna dan Sarasvati. Ditengah perjalanan yang melalui hutan Narada Muni melihat seekor rusa menggelepar kesakitan. Lebih lanjut Narada Muni melihat seekor babi tertusuk oleh sebuah anak panah kakinya juga patah dan dia menggelepar kesakitan. Ketika Narada Muni berjalan lebih lanjut, Dia melihat seeokor kelinci juga sedang menderita. Narada Muni menjerit hatinya melihat mahluk hidup yang menderita seperti itu.

Tak lama kemudian Narada Muni melihat seorang pemburu dibalik sebatang pohon. Dia sedang memegang anak panah dan siap untuk membunuh binatang lagi. Badan pemburu itu kehitam-hitaman, matanya dan dia nampak kejam dan mengerikan. Seolah-olah adalah Deva kematian, Yamaraja, yang sedang berdiri disana dengan busur-busur dan anak panah-anak panah yang dipegagnya. Ketika Narada Muni meninggalkan jalan yang dilaluinya dan pergi mendekati pemburu itu, semua binatang itu kabur sang pemburu ingin mencaci maki Narada, tapi karena kehadiran Narada dia tak dapat bilang apa-apa. Malah dia menyapa Narada dengan sopan, "O gosvami, wahai orang suci, mengapa kau meninggalkan jalanmu dan datang kepadaku dengan hanya melihatmu semua binatang yang akan aku buru lari". Narada Muni menjawab, aku datang padamu untuk menghilangkan suatu keraguan dipikiranku. Aku heran apakah semua babi dan binatang lainnya, yang setengah mati itu milikmu. "Ya, apa yang kau katakan itu benar," jawab sang pemburu.

Kemudian Narada Muni bertanya "Mengapa kau tidak membunuh binatang-binatang itu sepenuhnya, mengapa kau biarkan mereka sekarat dengan menusukkan anak panah ke tubuhnya ?". Sang pemburu menjawab "O, Orang suci yang terhormat, namaku Margari musuh para binatang. Ayahku yang mengajarkanku cara membunuh binatang seperti itu. Apabila aku melihat sekarat itu, aku merasa senang". Narada muni berkata "Aku ingin minta sesuatu darimu". Kemudian Sang pemburu menjawab, "Kau boleh ambil binatang manapun atau sesuatu apapun yang kau sukai". Aku punya banyak kulit binatang, apakah kau menyukainya. Aku akan memberikanmu kulit rusa atau kulit macan".

Narada Muni berkata, "aku tidak menginginkan kulit rusa atau kulit macan". Narada Muni berkata, "aku tidak menginginkan kulit apapun juga. Aku hanya minta satu hal sebagai sumbangan darimu. Aku minta padamu kalau kau membunuh binatang, bunuhlah sampai mati jangan biarkan mereka sekarat". Sang pemburu menjawab, "Tuan yang mulia, apa yang kau minta ini, apanya yang salah dengan binatang-binatang itu, maukah kau menjelaskan hal ini padaku".

Narada Muni menjawab, "Kalau aku membiarkan binatang-binatang itu sekarat maka kau secara sengaja memberikan penderitaan pada mereka. Oleh karena itu sebagai balasannya kau akan harus menderita pula. Wahai pemburu, urusanmu adalah membunuh binatang. Dengan kegiatan itu kau akan mendapatkan reaksi dosa sedikit tapi jika secara sadar kau memberikan mereka penderitaan yang tidak diperlukan dengan membiarkan mereka sekarat maka kau akan menerima reaksi dosa yang paling besar. Semua binatang yang telah kau bunuh dan kau berikan penderitaan yang tidak diperlukan akan membunuhmu satu persatu dalam setiap penjelmaan. Inilah hukum alam, mamsa berarti daging. "Mam sah khadati iti mansah artinya, sekarang aku makan daging binatang yang pada suatu hari nanti akan makan dagingku."

Dengan cara seperti itu, melalui pergaulan Rsi agung Nara Muni, sang pemburu sedikit disadarkan terhadap kegiatan berdosa yang dilakukannya. Oleh karena itu dia menjadi takut. Kemudian pemburu itu mengakui semua kegiatan berdosanya dan dia berkata, "Aku telah diajarkan berbuat seperti itu sejak kecil. Sekarang aku bingung bagaimana aku bisa bebas dari kegiatan berdosa yang tak terbatas ini. Tuan yang mulia, katakanlah bagaimana aku bebas dari reaksi-reaksi dosaku. Sekarang aku menyerahkan diri sepenuhnya kepada Anda dan bersujud dikaki padma anda, mohon bebaskanlah aku dari reaksi-reaksi dosa. Narada menjamin sang pemburu, kalau kau mendengar ajaran-ajaranku, aku akan mecari jalan agar kau dapat dibebaskan.

Sang pemburu berkata, "Tuan apapun yang anda katakan akan aku lakukan". Narada segera memerintahkan dia, pertama-tama patahkan busur panahmu, kemudian aku akan mengatakan hal lebih lanjut yang mesti kau lakukan". Sang pemburu menjawab, "kalau aku patahkan busurku, bagaimana aku memelihara kehidupanku". Narada Muni menjawab, "jangan cemas, aku akan menyediakan makananmu setiap hari". Mendengar kata-kata Narada Muni itu sang pemburu segera mematahkan busurnya dan bersujud pada kaki padma sang rsi, menyerahkan diri.

Setelah itu Narada Muni mengangkat dia dengan tangannya dan memberikan pelajaran ajaran untuk kemajuan rohani, "pulanglah dan sumbangkan kekayaan apapun setelah itu pergilah ke suatu sungai, dirikanlah sebuah pondok disana dan didepannya tanamlah pohon tulasi ditempat yang agak tinggi. Setelah menanam Tulasi di depan rumahmu, kelilingilah tanaman tulasi itu layani dan ucapkan Maha Mantra Hare Krsna secara terus menerus. Aku akan mengirimkan makanan kepada kalian setiap hari. Kau dapat ambil makanan sesuai yang kau perlukan. Tiga ekor binatang yang sekarat itu dipulihkan kembali kesadarannya oleh Narada Muni. Memang, kemudian binatang itu bangun dan berlari. Melihat hal ini sang pemburu tersentak kaget, lalu dia menyampaikan sembah sujud kapada Narada Muni dan dia kembali pulang. Kemudian Narada Muni melanjutkan perjalanannya. Setelah pemburu itu dirumah dia melaksanakan semua ajaran-ajaran guru kerohaniannya yaitu Narada Muni.

Berita bahwa sang Pemburu telah menjadi seorang vaisnava terbesar di seluruh desa sehingga para penduduk desa memberikan dia sedekah. Dalam satu hari saja makanan yang diberikan oleh mereka cukup untuk dimakan oleh 10 atau 20 orang, tapi Margari hanya menerima seperlunya saja. Pada suatu hari. Narada Muni dan kawannya yaitu Parvata Muni pergi untuk melihat muridnya, Margari, sang pemburu. Dari kejauhan sang pemburu dapat melihat rsi-rsi yang mulia sedang datang ke rumahnya. Dengan riang gembira dia berlari menyambut guru kerohaniannya, tapi dia tak dapat bersujud karena semut-semut sedang berlarian kesana kemari disekitar kakinya. Dengan hati-hati dia menghalau semut-semut itu dengan selembar pakaiannya lalu dia dandavat untuk menyampaikan sembah sujud.

Narada Muni berkata "Pemburu yang kucintai, tingkah lakumu yang seperti itu sama sekali tidak mengherankan. Seseorang yang berada dalam pelayanan bhakti maka penderitaan pada yang lainnya karena rasa iri".
Lalu sang pemburu menerima kedua rsi itu dihalaman rumahnya. Dia membentangkan tikar pandan dan mohon agar mereka berkenan duduk. Dia mengambil air dan dengan penuh pengabdian dia mencuci kaki kedua rsi tersebut. Pemburu dan istrinya meminum dan memercikkan air basuhan kaki-kaki rsi itu diatas kepala mereka. Ketika sang pemburu mengucapakan maha mantra Hare Krsna di hadapan guru kerohaniannya, badannya gemetaran dan air mata kebahagian rohani mulai mengalir dari matanya. Dia mengangkat tangannya dan mulai menari.

Tatakala Parvata Muni melihat gejala-gejala kebahagian rohani sang pemburu, dia berkata, "Narada anda adalah permata cintamani. Atas karunia Anda, bahkan orang yang lahir rendah sekalipun seperti pemburu ini dapat dengan segera menjadi terikat kepada Krsna. Narada Muni bertanya kepada sang pemburu, "O Vaisnaya, apakah kau memperoleh makan secukupnya ?". Sang pemburu menjawab, "Guru Maharaja yang hamba cintai, siapapun yang anda kirim, mereka selalu memberikan saya sesuatu, janganlah kirim begitu banyak biji-bijian. Kirimlah cukup untuk dua orang saja". Narada Muni memberkahinya, "Semoga kau mujur". Setelah itu Narada Muni dan Parvata Muni menghilang dari tempat itu.





Mau Beli Buku Bhagavad-gita, Srimad-bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, dll?
Senin - Minggu - Hari Libur | 08.00 - 21.00 WIB | http://mahanilastore.blogspot.com
0812-7740-3909 dan 0819-9108-4996

SMS/PHONE  : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
                       : 0819-9109-9321 (Mahanila)
WhatsApp     : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
BBM               : 5D40CF2D dan D5E8718B

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll.

Terimakasih Atas Kunjungan Anda.




NARADA MUNI DAN MARGARI (SANG PEMBURU)

("mam sah khadati iti mansah artinya, sekarang aku makan daging binatang yang pada suatu hari nanti akan makan dagingku.")

Pada suatu hari, setelah mengunjungi Narayana di Vaikuntha, Rsi mulia Narada pergi ke Prayaga untuk mandi di pertemuan tiga sungai yaitu : Gangga, Yamuna dan Sarasvati. Ditengah perjalanan yang melalui hutan Narada Muni melihat seekor rusa menggelepar kesakitan. Lebih lanjut Narada Muni melihat seekor babi tertusuk oleh sebuah anak panah kakinya juga patah dan dia menggelepar kesakitan. Ketika Narada Muni berjalan lebih lanjut, Dia melihat seeokor kelinci juga sedang menderita. Narada Muni menjerit hatinya melihat mahluk hidup yang menderita seperti itu.

Tak lama kemudian Narada Muni melihat seorang pemburu dibalik sebatang pohon. Dia sedang memegang anak panah dan siap untuk membunuh binatang lagi. Badan pemburu itu kehitam-hitaman, matanya dan dia nampak kejam dan mengerikan. Seolah-olah adalah Deva kematian, Yamaraja, yang sedang berdiri disana dengan busur-busur dan anak panah-anak panah yang dipegagnya. Ketika Narada Muni meninggalkan jalan yang dilaluinya dan pergi mendekati pemburu itu, semua binatang itu kabur sang pemburu ingin mencaci maki Narada, tapi karena kehadiran Narada dia tak dapat bilang apa-apa. Malah dia menyapa Narada dengan sopan, "O gosvami, wahai orang suci, mengapa kau meninggalkan jalanmu dan datang kepadaku dengan hanya melihatmu semua binatang yang akan aku buru lari". Narada Muni menjawab, aku datang padamu untuk menghilangkan suatu keraguan dipikiranku. Aku heran apakah semua babi dan binatang lainnya, yang setengah mati itu milikmu. "Ya, apa yang kau katakan itu benar," jawab sang pemburu.

Kemudian Narada Muni bertanya "Mengapa kau tidak membunuh binatang-binatang itu sepenuhnya, mengapa kau biarkan mereka sekarat dengan menusukkan anak panah ke tubuhnya ?". Sang pemburu menjawab "O, Orang suci yang terhormat, namaku Margari musuh para binatang. Ayahku yang mengajarkanku cara membunuh binatang seperti itu. Apabila aku melihat sekarat itu, aku merasa senang". Narada muni berkata "Aku ingin minta sesuatu darimu". Kemudian Sang pemburu menjawab, "Kau boleh ambil binatang manapun atau sesuatu apapun yang kau sukai". Aku punya banyak kulit binatang, apakah kau menyukainya. Aku akan memberikanmu kulit rusa atau kulit macan".

Narada Muni berkata, "aku tidak menginginkan kulit rusa atau kulit macan". Narada Muni berkata, "aku tidak menginginkan kulit apapun juga. Aku hanya minta satu hal sebagai sumbangan darimu. Aku minta padamu kalau kau membunuh binatang, bunuhlah sampai mati jangan biarkan mereka sekarat". Sang pemburu menjawab, "Tuan yang mulia, apa yang kau minta ini, apanya yang salah dengan binatang-binatang itu, maukah kau menjelaskan hal ini padaku".

Narada Muni menjawab, "Kalau aku membiarkan binatang-binatang itu sekarat maka kau secara sengaja memberikan penderitaan pada mereka. Oleh karena itu sebagai balasannya kau akan harus menderita pula. Wahai pemburu, urusanmu adalah membunuh binatang. Dengan kegiatan itu kau akan mendapatkan reaksi dosa sedikit tapi jika secara sadar kau memberikan mereka penderitaan yang tidak diperlukan dengan membiarkan mereka sekarat maka kau akan menerima reaksi dosa yang paling besar. Semua binatang yang telah kau bunuh dan kau berikan penderitaan yang tidak diperlukan akan membunuhmu satu persatu dalam setiap penjelmaan. Inilah hukum alam, mamsa berarti daging. "Mam sah khadati iti mansah artinya, sekarang aku makan daging binatang yang pada suatu hari nanti akan makan dagingku."

Dengan cara seperti itu, melalui pergaulan Rsi agung Nara Muni, sang pemburu sedikit disadarkan terhadap kegiatan berdosa yang dilakukannya. Oleh karena itu dia menjadi takut. Kemudian pemburu itu mengakui semua kegiatan berdosanya dan dia berkata, "Aku telah diajarkan berbuat seperti itu sejak kecil. Sekarang aku bingung bagaimana aku bisa bebas dari kegiatan berdosa yang tak terbatas ini. Tuan yang mulia, katakanlah bagaimana aku bebas dari reaksi-reaksi dosaku. Sekarang aku menyerahkan diri sepenuhnya kepada Anda dan bersujud dikaki padma anda, mohon bebaskanlah aku dari reaksi-reaksi dosa. Narada menjamin sang pemburu, kalau kau mendengar ajaran-ajaranku, aku akan mecari jalan agar kau dapat dibebaskan.

Sang pemburu berkata, "Tuan apapun yang anda katakan akan aku lakukan". Narada segera memerintahkan dia, pertama-tama patahkan busur panahmu, kemudian aku akan mengatakan hal lebih lanjut yang mesti kau lakukan". Sang pemburu menjawab, "kalau aku patahkan busurku, bagaimana aku memelihara kehidupanku". Narada Muni menjawab, "jangan cemas, aku akan menyediakan makananmu setiap hari". Mendengar kata-kata Narada Muni itu sang pemburu segera mematahkan busurnya dan bersujud pada kaki padma sang rsi, menyerahkan diri.

Setelah itu Narada Muni mengangkat dia dengan tangannya dan memberikan pelajaran ajaran untuk kemajuan rohani, "pulanglah dan sumbangkan kekayaan apapun setelah itu pergilah ke suatu sungai, dirikanlah sebuah pondok disana dan didepannya tanamlah pohon tulasi ditempat yang agak tinggi. Setelah menanam Tulasi di depan rumahmu, kelilingilah tanaman tulasi itu layani dan ucapkan Maha Mantra Hare Krsna secara terus menerus. Aku akan mengirimkan makanan kepada kalian setiap hari. Kau dapat ambil makanan sesuai yang kau perlukan. Tiga ekor binatang yang sekarat itu dipulihkan kembali kesadarannya oleh Narada Muni. Memang, kemudian binatang itu bangun dan berlari. Melihat hal ini sang pemburu tersentak kaget, lalu dia menyampaikan sembah sujud kapada Narada Muni dan dia kembali pulang. Kemudian Narada Muni melanjutkan perjalanannya. Setelah pemburu itu dirumah dia melaksanakan semua ajaran-ajaran guru kerohaniannya yaitu Narada Muni.

Berita bahwa sang Pemburu telah menjadi seorang vaisnava terbesar di seluruh desa sehingga para penduduk desa memberikan dia sedekah. Dalam satu hari saja makanan yang diberikan oleh mereka cukup untuk dimakan oleh 10 atau 20 orang, tapi Margari hanya menerima seperlunya saja. Pada suatu hari. Narada Muni dan kawannya yaitu Parvata Muni pergi untuk melihat muridnya, Margari, sang pemburu. Dari kejauhan sang pemburu dapat melihat rsi-rsi yang mulia sedang datang ke rumahnya. Dengan riang gembira dia berlari menyambut guru kerohaniannya, tapi dia tak dapat bersujud karena semut-semut sedang berlarian kesana kemari disekitar kakinya. Dengan hati-hati dia menghalau semut-semut itu dengan selembar pakaiannya lalu dia dandavat untuk menyampaikan sembah sujud.

Narada Muni berkata "Pemburu yang kucintai, tingkah lakumu yang seperti itu sama sekali tidak mengherankan. Seseorang yang berada dalam pelayanan bhakti maka penderitaan pada yang lainnya karena rasa iri".
Lalu sang pemburu menerima kedua rsi itu dihalaman rumahnya. Dia membentangkan tikar pandan dan mohon agar mereka berkenan duduk. Dia mengambil air dan dengan penuh pengabdian dia mencuci kaki kedua rsi tersebut. Pemburu dan istrinya meminum dan memercikkan air basuhan kaki-kaki rsi itu diatas kepala mereka. Ketika sang pemburu mengucapakan maha mantra Hare Krsna di hadapan guru kerohaniannya, badannya gemetaran dan air mata kebahagian rohani mulai mengalir dari matanya. Dia mengangkat tangannya dan mulai menari.

Tatakala Parvata Muni melihat gejala-gejala kebahagian rohani sang pemburu, dia berkata, "Narada anda adalah permata cintamani. Atas karunia Anda, bahkan orang yang lahir rendah sekalipun seperti pemburu ini dapat dengan segera menjadi terikat kepada Krsna. Narada Muni bertanya kepada sang pemburu, "O Vaisnaya, apakah kau memperoleh makan secukupnya ?". Sang pemburu menjawab, "Guru Maharaja yang hamba cintai, siapapun yang anda kirim, mereka selalu memberikan saya sesuatu, janganlah kirim begitu banyak biji-bijian. Kirimlah cukup untuk dua orang saja". Narada Muni memberkahinya, "Semoga kau mujur". Setelah itu Narada Muni dan Parvata Muni menghilang dari tempat itu.





Mau Beli Buku Bhagavad-gita, Srimad-bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, dll?
Senin - Minggu - Hari Libur | 08.00 - 21.00 WIB | http://mahanilastore.blogspot.com
0812-7740-3909 dan 0819-9108-4996

SMS/PHONE  : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
                       : 0819-9109-9321 (Mahanila)
WhatsApp     : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
BBM               : 5D40CF2D dan D5E8718B

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll.

Terimakasih Atas Kunjungan Anda.

By: Sanatana Dharma Indonesia

PERCAKAPAN DEVA SIVA DAN PARVATI DEVI

PERCAKAPAN DEVA SIVA DAN PARVATI DEVI

Parvati Devi berkata kepada Deva Siva, "Tuhanku, Engkau mengatakan kepada saya bahwa hendaknya seseorang menghindari berbicara dengan para mayavadi.

Bagaimanakah ciri-ciri mereka dan apa yang mereka uraikan ?". Deva Siva berkata, "Orang yang dikhayalkan oleh kebodohan menjelaskan bahwa ada kepribadian lain yang lebih tinggi dari Sri Vishnu, penguasa seluruh alam semesta, maka dia adalah Mayavadi. Orang yang memakai kalungan tengkorak, tulang-tulang dan mengolesi badannya dengan abu, tidak memakai tanda-tanda veda yang benar yang menganggap Sri Vishnu sejajar dengan kepribadian lain seperti Brahma dan Rudra yang tidak menyembah Visnu, maka dia adalah Mayavadi.

Parvati berkata, "Tuhanku, uraian kitab suci menyalahkan memakai tengkorak, abu dan tulang-tulang, lalu mengapa anda menggunakannya? Ceritakanlah rahasia ini dan maafkan kalau pertanyaan saya tidak berkenan". Deva Siva berkata, "Oh, Devi, dengarkanlah, aku akan menceritakan suatu rahasia yang ajaib. O Devi, hendaknya kau jangan katakan hal ini pada orang lain.

     Pada jaman Svayambhuva (manu) ada banyak raksasa yang sakti seperti Namuci dan lainnya. Semua Deva dipimpin Indra merasa takut dan frustasi, lalu mereka mendekati Sri Vishnu untuk meminta perlindungan, para deva berdoa, "Oh Kesava, Engkau sendiri mampu menaklukan raksasa-raksasa besar ini, yang tak mampu kami kalahkan. Lindungilah kami yang menyerahkan diri pada kaki padmaMU".

Deva Siva melanjutkan, "Setelah mendegar permohonan para deva yang ketakutan itu, Sri Vishnu, Purusottana, bersabda kepadaku; "O Rudra, untuk menghayalkan musuh para Deva susunlah suatu lapangan tindakan yang diikuti oleh para mayavadi. Ceritakanlah purana-purana gelap (purana-purana yang menyesatkan), juga rancanglah teks-teks suci yang membingungkan. Dengan kekuatan sugesti (bhava sakti) mu pengaruhilah para brahmana dan resi mulia seperti Kanada, Gautama, Sakti Upamayu, Jaimini Kapila, Durvasa, Mrkandu, Brhaspati, Bhragava dan Jamadagnya untuk menguraikan purana gelap dan ajaran-ajaran yang menyababkan para asura tersesat seketika, dan untuk membingungkan orang-orang di ketiga dunia kau sendiri pakailah tanda-tanda seperti tengkorak, abu, dan tulang-tulang. Juga susunlah ajaran-ajaran yang tidak bertanda khusus yang diluar ajaran veda. Orang-orang yang memakai abu, tulang dan tengkorak dan sejenisnya akan menganggap kau sebagai Kepribadian Yang Paling Utama atau Tuhan. Dengan menerima ajaran-ajaran gelap ini maka para asura itu akan segera menentangku. O Rudra, dalam penjelmaan-penjelmaanKu, aku juga akan menyembahmu dan setiap jaman hanya untuk lebih membingungkan orang-orang jahat. Setelah menyelami ajaran-ajaran ini mereka pasti jatuh".

       Itulah sebabnya mengapa penjelmaan Tuhan sebagai Sri Rama menyembah Deva Siva. Mahadeva berkata, "O Devi, setelah mendengar sabda Sri Vishnu, aku merasa lemas tak berdaya. Setelah aku menyampaikan doa-doa pujian, aku berkata, "O Devata, jika hamba laksanakan perintah Anda di bumi maka hal ini akan menghancurkan hamba sendiri. O Vishnu tidak mungkin hamba melaksanakan perintahMU, akan tetapi hal ini sangat menyakitkan, O devi", selesai aku berkata demikian Sri Vishnu bersabda, "Aku akan melindungimu, kau tidak akan hancur, lakukanlah seperti apa yang Aku perintahkan. Aku akan memberikanmu sebuah mantra yang bernama Visnusahasranama (seribu nama Vishnu). Semayamkanlah Aku dihatimu dan ucapkan mantra ini "ramaya namah" sembah sujud pada Sri Rama, suami Sita Devi). Mantra ini menghancurkan segala dosa dan menganugerahkan pembebesan. Ucapkanlah mantra ini setiap hari, maka kau akan bebas dari kesalahan menyampaikan ajaran mayavadi, memakai abu, tengkorak dan tulang-tulang. Pujalah Aku dihatimu, patuhilah perintahKu, semua ini akan mujur bagimu. Setelah bersabda demikian, Sri Vishnu menghilang.

Deva Siva melanjutkan, "Demi kebaikan para deva aku menerima jalan mayavadi, memakai kalungan tengkorak, abu dan tulang-tulang. Sesuai dengan perintah Sri Vishnu aku mulai menyusun purana sesat dan ajaran-ajaran Saiva atau Pasupata. Dengan kekuatanku, aku mempengaruhi para brahmana dan resi untuk melaksanakan misi ini sehingga kaum asura menentang Sri Vishnu dan malah mereka akan menyembahku dengan persembahan daging, darah dan sejenisnya. Dengan menerima berkahku mereka akan menjadi sombong, terikat dengan obyek-obyek indria, penuh nafsu dan marah. Orang-orang di bumi yang menyimpang dari jalan kebenaran akan belindung pada doktrin/ ajaran-ajaran sehingga mereka akan pergi ke Neraka.

      Dengan melaksanakan perintah Sri Vishnu, O Devi, aku memakai tanda-tanda ini (tengkoran, abu, dan lain-lain). Ini hanya tanda-tanda luas saja untuk membingungkan orang-orang jahat, akan tetapi dihati, aku selalu bersemadhi pada Sri Vishnu. Parvati berkata, "O yang tak ternoda, uraikanlah ajaran-ajaran gelap yang disusun oleh para brahmana yang kurang berbhakti pada Sri Visnu. Katakanlah nama-namanya". Deva Siva menjawaba, "Dengarkanlah, O Devi, akan kuuraikan ajaran-ajaran jahat itu, hanya dengan mengingatnya bahkan orang bijaksanapun akan dihayalkan.

      Pertama-tama aku sendiri menyusun doktrin atau ajaran Saiva. Dengan kekuatanku aku telah mempengaruhi para brahmana dan resi seperti Kanada menyusun doktrin atau ajaran Vaisesika, Gautama dengan doktrin Nyana, Kapila dengan doktrin Sankhya, Brhaspati dengan doktrin Carvaka, Sri Visnu dalam penjelmaannya sebagai Buddha dengan doktrin Buddha yang palsu. Doktrin maya (ilusi) adalah doktrin jahat dan disebut dengan Buddhist gadungan. Doktrin atau ajaran ini akan aku sampaikan sendiri dalam penjelmaanku sebagai seorang brahmana di Kali Yuga. Ajaran ini akan melemahkan arti akan ajaran-ajaran veda yang benar. Untuk membingungkan orang-orang kali yuga, aku akan menghadirkan ajaran-ajaran yang besar yang mirip dengan penjelasan veda-veda tetapi sebenarnya hanya khayalan (maya) belaka. Atas perintahku Jaimani menyampaikan doktrin Purva Mimansa yang menguraikan faham meniadakan Tuhan dan meniadakan arti Veda.









Mau Beli Buku Bhagavad-gita, Srimad-bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, dll?
Senin - Minggu - Hari Libur | 08.00 - 21.00 WIB | http://mahanilastore.blogspot.com
0812-7740-3909 dan 0819-9108-4996

SMS/PHONE  : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
                       : 0819-9109-9321 (Mahanila)
WhatsApp     : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
BBM               : 5D40CF2D dan D5E8718B

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll.

Terimakasih Atas Kunjungan Anda.

PERCAKAPAN DEVA SIVA DAN PARVATI DEVI

Parvati Devi berkata kepada Deva Siva, "Tuhanku, Engkau mengatakan kepada saya bahwa hendaknya seseorang menghindari berbicara dengan para mayavadi.

Bagaimanakah ciri-ciri mereka dan apa yang mereka uraikan ?". Deva Siva berkata, "Orang yang dikhayalkan oleh kebodohan menjelaskan bahwa ada kepribadian lain yang lebih tinggi dari Sri Vishnu, penguasa seluruh alam semesta, maka dia adalah Mayavadi. Orang yang memakai kalungan tengkorak, tulang-tulang dan mengolesi badannya dengan abu, tidak memakai tanda-tanda veda yang benar yang menganggap Sri Vishnu sejajar dengan kepribadian lain seperti Brahma dan Rudra yang tidak menyembah Visnu, maka dia adalah Mayavadi.

Parvati berkata, "Tuhanku, uraian kitab suci menyalahkan memakai tengkorak, abu dan tulang-tulang, lalu mengapa anda menggunakannya? Ceritakanlah rahasia ini dan maafkan kalau pertanyaan saya tidak berkenan". Deva Siva berkata, "Oh, Devi, dengarkanlah, aku akan menceritakan suatu rahasia yang ajaib. O Devi, hendaknya kau jangan katakan hal ini pada orang lain.

     Pada jaman Svayambhuva (manu) ada banyak raksasa yang sakti seperti Namuci dan lainnya. Semua Deva dipimpin Indra merasa takut dan frustasi, lalu mereka mendekati Sri Vishnu untuk meminta perlindungan, para deva berdoa, "Oh Kesava, Engkau sendiri mampu menaklukan raksasa-raksasa besar ini, yang tak mampu kami kalahkan. Lindungilah kami yang menyerahkan diri pada kaki padmaMU".

Deva Siva melanjutkan, "Setelah mendegar permohonan para deva yang ketakutan itu, Sri Vishnu, Purusottana, bersabda kepadaku; "O Rudra, untuk menghayalkan musuh para Deva susunlah suatu lapangan tindakan yang diikuti oleh para mayavadi. Ceritakanlah purana-purana gelap (purana-purana yang menyesatkan), juga rancanglah teks-teks suci yang membingungkan. Dengan kekuatan sugesti (bhava sakti) mu pengaruhilah para brahmana dan resi mulia seperti Kanada, Gautama, Sakti Upamayu, Jaimini Kapila, Durvasa, Mrkandu, Brhaspati, Bhragava dan Jamadagnya untuk menguraikan purana gelap dan ajaran-ajaran yang menyababkan para asura tersesat seketika, dan untuk membingungkan orang-orang di ketiga dunia kau sendiri pakailah tanda-tanda seperti tengkorak, abu, dan tulang-tulang. Juga susunlah ajaran-ajaran yang tidak bertanda khusus yang diluar ajaran veda. Orang-orang yang memakai abu, tulang dan tengkorak dan sejenisnya akan menganggap kau sebagai Kepribadian Yang Paling Utama atau Tuhan. Dengan menerima ajaran-ajaran gelap ini maka para asura itu akan segera menentangku. O Rudra, dalam penjelmaan-penjelmaanKu, aku juga akan menyembahmu dan setiap jaman hanya untuk lebih membingungkan orang-orang jahat. Setelah menyelami ajaran-ajaran ini mereka pasti jatuh".

       Itulah sebabnya mengapa penjelmaan Tuhan sebagai Sri Rama menyembah Deva Siva. Mahadeva berkata, "O Devi, setelah mendengar sabda Sri Vishnu, aku merasa lemas tak berdaya. Setelah aku menyampaikan doa-doa pujian, aku berkata, "O Devata, jika hamba laksanakan perintah Anda di bumi maka hal ini akan menghancurkan hamba sendiri. O Vishnu tidak mungkin hamba melaksanakan perintahMU, akan tetapi hal ini sangat menyakitkan, O devi", selesai aku berkata demikian Sri Vishnu bersabda, "Aku akan melindungimu, kau tidak akan hancur, lakukanlah seperti apa yang Aku perintahkan. Aku akan memberikanmu sebuah mantra yang bernama Visnusahasranama (seribu nama Vishnu). Semayamkanlah Aku dihatimu dan ucapkan mantra ini "ramaya namah" sembah sujud pada Sri Rama, suami Sita Devi). Mantra ini menghancurkan segala dosa dan menganugerahkan pembebesan. Ucapkanlah mantra ini setiap hari, maka kau akan bebas dari kesalahan menyampaikan ajaran mayavadi, memakai abu, tengkorak dan tulang-tulang. Pujalah Aku dihatimu, patuhilah perintahKu, semua ini akan mujur bagimu. Setelah bersabda demikian, Sri Vishnu menghilang.

Deva Siva melanjutkan, "Demi kebaikan para deva aku menerima jalan mayavadi, memakai kalungan tengkorak, abu dan tulang-tulang. Sesuai dengan perintah Sri Vishnu aku mulai menyusun purana sesat dan ajaran-ajaran Saiva atau Pasupata. Dengan kekuatanku, aku mempengaruhi para brahmana dan resi untuk melaksanakan misi ini sehingga kaum asura menentang Sri Vishnu dan malah mereka akan menyembahku dengan persembahan daging, darah dan sejenisnya. Dengan menerima berkahku mereka akan menjadi sombong, terikat dengan obyek-obyek indria, penuh nafsu dan marah. Orang-orang di bumi yang menyimpang dari jalan kebenaran akan belindung pada doktrin/ ajaran-ajaran sehingga mereka akan pergi ke Neraka.

      Dengan melaksanakan perintah Sri Vishnu, O Devi, aku memakai tanda-tanda ini (tengkoran, abu, dan lain-lain). Ini hanya tanda-tanda luas saja untuk membingungkan orang-orang jahat, akan tetapi dihati, aku selalu bersemadhi pada Sri Vishnu. Parvati berkata, "O yang tak ternoda, uraikanlah ajaran-ajaran gelap yang disusun oleh para brahmana yang kurang berbhakti pada Sri Visnu. Katakanlah nama-namanya". Deva Siva menjawaba, "Dengarkanlah, O Devi, akan kuuraikan ajaran-ajaran jahat itu, hanya dengan mengingatnya bahkan orang bijaksanapun akan dihayalkan.

      Pertama-tama aku sendiri menyusun doktrin atau ajaran Saiva. Dengan kekuatanku aku telah mempengaruhi para brahmana dan resi seperti Kanada menyusun doktrin atau ajaran Vaisesika, Gautama dengan doktrin Nyana, Kapila dengan doktrin Sankhya, Brhaspati dengan doktrin Carvaka, Sri Visnu dalam penjelmaannya sebagai Buddha dengan doktrin Buddha yang palsu. Doktrin maya (ilusi) adalah doktrin jahat dan disebut dengan Buddhist gadungan. Doktrin atau ajaran ini akan aku sampaikan sendiri dalam penjelmaanku sebagai seorang brahmana di Kali Yuga. Ajaran ini akan melemahkan arti akan ajaran-ajaran veda yang benar. Untuk membingungkan orang-orang kali yuga, aku akan menghadirkan ajaran-ajaran yang besar yang mirip dengan penjelasan veda-veda tetapi sebenarnya hanya khayalan (maya) belaka. Atas perintahku Jaimani menyampaikan doktrin Purva Mimansa yang menguraikan faham meniadakan Tuhan dan meniadakan arti Veda.









Mau Beli Buku Bhagavad-gita, Srimad-bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, dll?
Senin - Minggu - Hari Libur | 08.00 - 21.00 WIB | http://mahanilastore.blogspot.com
0812-7740-3909 dan 0819-9108-4996

SMS/PHONE  : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
                       : 0819-9109-9321 (Mahanila)
WhatsApp     : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
BBM               : 5D40CF2D dan D5E8718B

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll.

Terimakasih Atas Kunjungan Anda.

By: Sanatana Dharma Indonesia

Sunday, October 15, 2017

Kita harus mengatur sedemikian rupa sehingga akan ada kirtana yang bagus dan mencoba untuk menjual publikasi kita.







*His Divine Grace A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda (Acharya Pendiri ISKCON)--*

Jadi sekarang kita harus mengatur sedemikian rupa sehingga akan ada kirtana yang bagus dan mencoba untuk menjual publikasi kita. Guru Maharaja saya menunjukkan bahwa mrdanga dan pers adalah media dari kegiatan propaganda misi religius kita, dan dengan car yang sama kita akan mengikuti jalan-Nya. Kita harus memiliki mrdanga dalam jumlah besar untuk memvibarisikan di berbagai belahan dunia dan kita juga harus mendistribusikan literatur kita. "* 

(Surat ke Brahmananda -Los Angeles, 30 Januari 1969) *

Source in English :

*His Divine Grace A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda (ISKCON Founder Acharya)--*

"So we should now organize in such a way that there shall be nice kirtana and attempt for selling our publications. My Guru Maharaja indicated that the mrdanga and the press are the mediums of our missionary propaganda activities, and we shall follow His path in the same way. We must have large quantities of mrdangas for vibrating in different parts of the world and we must distribute our literature also."

*(Letter to Brahmananda —Los Angeles, 30 January 1969)*








Mau Beli Buku Bhagavad-gita, Srimad-bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, dll?
Senin - Minggu - Hari Libur | 08.00 - 21.00 WIB | http://mahanilastore.blogspot.com
0812-7740-3909 dan 0819-9108-4996

SMS/PHONE  : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
                       : 0819-9109-9321 (Mahanila)
WhatsApp     : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
BBM               : 5D40CF2D dan D5E8718B

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll.

Terimakasih Atas Kunjungan Anda.







*His Divine Grace A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda (Acharya Pendiri ISKCON)--*

Jadi sekarang kita harus mengatur sedemikian rupa sehingga akan ada kirtana yang bagus dan mencoba untuk menjual publikasi kita. Guru Maharaja saya menunjukkan bahwa mrdanga dan pers adalah media dari kegiatan propaganda misi religius kita, dan dengan car yang sama kita akan mengikuti jalan-Nya. Kita harus memiliki mrdanga dalam jumlah besar untuk memvibarisikan di berbagai belahan dunia dan kita juga harus mendistribusikan literatur kita. "* 

(Surat ke Brahmananda -Los Angeles, 30 Januari 1969) *

Source in English :

*His Divine Grace A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda (ISKCON Founder Acharya)--*

"So we should now organize in such a way that there shall be nice kirtana and attempt for selling our publications. My Guru Maharaja indicated that the mrdanga and the press are the mediums of our missionary propaganda activities, and we shall follow His path in the same way. We must have large quantities of mrdangas for vibrating in different parts of the world and we must distribute our literature also."

*(Letter to Brahmananda —Los Angeles, 30 January 1969)*








Mau Beli Buku Bhagavad-gita, Srimad-bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, dll?
Senin - Minggu - Hari Libur | 08.00 - 21.00 WIB | http://mahanilastore.blogspot.com
0812-7740-3909 dan 0819-9108-4996

SMS/PHONE  : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
                       : 0819-9109-9321 (Mahanila)
WhatsApp     : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
BBM               : 5D40CF2D dan D5E8718B

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll.

Terimakasih Atas Kunjungan Anda.

By: Sanatana Dharma Indonesia

'Pemimpin' berarti orang yang merupakan murid kelas satu. Evam parampara-praptam.



SRILA PRABHUPADA:

"Semua murid saya akan mendapatkan warisan. Jika mau, Anda juga bisa menerimanya. Mengorbankan semuanya. Saya-sendir-mungkin akan segera berpulang. Tapi merka jumlahnya ratusan, dan gerakan ini akan semakin bertambah.

Ini bukan berarti saya akan memberikan sebuah perintah: 'Inilah pemimpin berikutnya.' Siapapun yang mengikuti kepemimpinan sebelumnya adalah seorang pemimpin. Saya tidak membuat perbedaan antara India dan Eropa. Semua murid saya adalah pemimpin ... sebanyak yang mereka ikuti dengan murni. Jika Anda ingin mengikuti, maka Anda juga bisa memimpin. Tapi Anda tidak ingin mengikuti.

'Pemimpin' berarti orang yang merupakan murid kelas satu. Evam parampara-praptam. Seseorang yang benar-benar mengikuti. Instruksi kami adalah, guru mukha-padma-vakya. Apakah kamu tahu ini? Ara na kariha mane asa. [Keinginan saya satu-satunya hanya untuk memiliki kesadaran saya yang dimurnikan dengan kata-kata yang berasal dari mulut padma dari guru kerohnian saya'].

Menjadi pemimpin tidak terlalu sulit, asalkan seseorang siap mengikuti instruksi dari guru yang bonafide. "
"Anda [para murid] adalah semua orang yang cerdas dan berpengalaman; Anda bisa terus mengelola gerakan ini. Jika saya berpulang, tidak ada alasan untuk mengeluh. Saya akan selalu bersama Anda melalui buku dan perintah saya. Saya akan selalu tinggal bersamamu denga cara seperti itu."

SRILA PRABHUPADA :

“All of my disciples will take the legacy. If you want, you can also take it. Sacrifice everything. I—one—may soon pass away. But they are hundreds, and this movement will increase.

It’s not that I’ll give an order: ‘Here is the next leader.’ Anyone who follows the previous leadership is a leader. I don’t make any distinction between Indian and European. All my disciples are leaders… as much as they follow purely. If you want to follow, then you can also lead. But you dont want to follow.

‘Leader’ means one who is a first-class disciple. Evam parampara-praptam. One who is perfectly following. Our instruction is, guru mukha-padma-vakya. Do you know this? Ara na kariha mane asa. [My only desire is to have my consciousness purified by the words emanating from the lotus mouth of my spiritual master’].

To become a leader is not very difficult, provided one is prepared to follow the instructions of the bonafide guru."

“You [disciples] are all intelligent and experienced men; you can go on managing this movement. If I depart, there is no cause for lamentation. I will always be with you through my books and my orders. I will always remain with you in that way.”








Mau Beli Buku Bhagavad-gita, Srimad-bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, dll?
Senin - Minggu - Hari Libur | 08.00 - 21.00 WIB | http://mahanilastore.blogspot.com
0812-7740-3909 dan 0819-9108-4996

SMS/PHONE  : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
                       : 0819-9109-9321 (Mahanila)
WhatsApp     : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
BBM               : 5D40CF2D dan D5E8718B

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll.

Terimakasih Atas Kunjungan Anda.



SRILA PRABHUPADA:

"Semua murid saya akan mendapatkan warisan. Jika mau, Anda juga bisa menerimanya. Mengorbankan semuanya. Saya-sendir-mungkin akan segera berpulang. Tapi merka jumlahnya ratusan, dan gerakan ini akan semakin bertambah.

Ini bukan berarti saya akan memberikan sebuah perintah: 'Inilah pemimpin berikutnya.' Siapapun yang mengikuti kepemimpinan sebelumnya adalah seorang pemimpin. Saya tidak membuat perbedaan antara India dan Eropa. Semua murid saya adalah pemimpin ... sebanyak yang mereka ikuti dengan murni. Jika Anda ingin mengikuti, maka Anda juga bisa memimpin. Tapi Anda tidak ingin mengikuti.

'Pemimpin' berarti orang yang merupakan murid kelas satu. Evam parampara-praptam. Seseorang yang benar-benar mengikuti. Instruksi kami adalah, guru mukha-padma-vakya. Apakah kamu tahu ini? Ara na kariha mane asa. [Keinginan saya satu-satunya hanya untuk memiliki kesadaran saya yang dimurnikan dengan kata-kata yang berasal dari mulut padma dari guru kerohnian saya'].

Menjadi pemimpin tidak terlalu sulit, asalkan seseorang siap mengikuti instruksi dari guru yang bonafide. "
"Anda [para murid] adalah semua orang yang cerdas dan berpengalaman; Anda bisa terus mengelola gerakan ini. Jika saya berpulang, tidak ada alasan untuk mengeluh. Saya akan selalu bersama Anda melalui buku dan perintah saya. Saya akan selalu tinggal bersamamu denga cara seperti itu."

SRILA PRABHUPADA :

“All of my disciples will take the legacy. If you want, you can also take it. Sacrifice everything. I—one—may soon pass away. But they are hundreds, and this movement will increase.

It’s not that I’ll give an order: ‘Here is the next leader.’ Anyone who follows the previous leadership is a leader. I don’t make any distinction between Indian and European. All my disciples are leaders… as much as they follow purely. If you want to follow, then you can also lead. But you dont want to follow.

‘Leader’ means one who is a first-class disciple. Evam parampara-praptam. One who is perfectly following. Our instruction is, guru mukha-padma-vakya. Do you know this? Ara na kariha mane asa. [My only desire is to have my consciousness purified by the words emanating from the lotus mouth of my spiritual master’].

To become a leader is not very difficult, provided one is prepared to follow the instructions of the bonafide guru."

“You [disciples] are all intelligent and experienced men; you can go on managing this movement. If I depart, there is no cause for lamentation. I will always be with you through my books and my orders. I will always remain with you in that way.”








Mau Beli Buku Bhagavad-gita, Srimad-bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, dll?
Senin - Minggu - Hari Libur | 08.00 - 21.00 WIB | http://mahanilastore.blogspot.com
0812-7740-3909 dan 0819-9108-4996

SMS/PHONE  : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
                       : 0819-9109-9321 (Mahanila)
WhatsApp     : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
BBM               : 5D40CF2D dan D5E8718B

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll.

Terimakasih Atas Kunjungan Anda.

By: Sanatana Dharma Indonesia

Disana tidak ada keraguan tentang seseorang menjadi terbebaskan dari segala reaksi dari kegiatan-kegiatan yang berdosa setelah menemui seorang penyembah atau menyentuh kaki padmanya atau memberikannya sebuah tempat duduk.



"Suatu pernyataan yang sama ditemukan dalam Skanda Pertama, Bab 19, Sloka 30, dari Srimad-Bhagavatam: "Disana tidak ada keraguan tentang seseorang menjadi terbebaskan dari segala reaksi dari kegiatan-kegiatan yang berdosa setelah menemui seorang penyembah atau menyentuh kaki padmanya atau memberikannya sebuah tempat duduk. Bahkan dengan mengingat kegiatan-kegiatan para Vaisnava seperti itu, seseorang menjadi disucikan, bersama dengan seluruh keluarganya. Dan lalu apa, yang dapat kita katakan jika mempersembahkan pelayanan secarang langsung kepadanya?" Didalam Adi Purana berikut ada pernyataan dari Tuhan Sri Krsna Sendiri, yang ditujukan kepada Arjuna: "Partha yang Ku kasihi, seseorang yang mengatakan dirinya adalah penyembah-Ku adalah bukan penyembah-Ku. Hanya seorang yang menyatakan dirinya adalah penyembah dari penyembah-Ku sesungguhnya adalah penyembah-Ku"

Srila Prabhupada Lautan Manisnya Rasa Bhakti - 1970 > NoD 12: Revealed Scriptures

Source in English :

"A similar statement is found in the First Canto, 19th Chapter, 30th verse, of the Śrīmad-Bhāgavatam: "There is no doubt about one's becoming freed from all reactions to sinful activities after visiting a devotee or touching his lotus feet or giving him a sitting place. Even by remembering the activities of such Vaiṣṇavas, one becomes purified, along with his whole family. And what, then, can be said of rendering direct service to him?"
In the Ādi Purāṇa there is the following statement by Lord Kṛṣṇa Himself, addressed to Arjuna: "My dear Pārtha, one who claims to be My devotee is not so. Only a person who claims to be the devotee of My devotee is actually My devotee"

Srila Prabhupada The Nectar of Devotion - 1970 > NoD 12: Revealed Scriptures







Mau Beli Buku Bhagavad-gita, Srimad-bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, dll?
Senin - Minggu - Hari Libur | 08.00 - 21.00 WIB | http://mahanilastore.blogspot.com
0812-7740-3909 dan 0819-9108-4996

SMS/PHONE  : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
                       : 0819-9109-9321 (Mahanila)
WhatsApp     : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
BBM               : 5D40CF2D dan D5E8718B

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll.

Terimakasih Atas Kunjungan Anda.



"Suatu pernyataan yang sama ditemukan dalam Skanda Pertama, Bab 19, Sloka 30, dari Srimad-Bhagavatam: "Disana tidak ada keraguan tentang seseorang menjadi terbebaskan dari segala reaksi dari kegiatan-kegiatan yang berdosa setelah menemui seorang penyembah atau menyentuh kaki padmanya atau memberikannya sebuah tempat duduk. Bahkan dengan mengingat kegiatan-kegiatan para Vaisnava seperti itu, seseorang menjadi disucikan, bersama dengan seluruh keluarganya. Dan lalu apa, yang dapat kita katakan jika mempersembahkan pelayanan secarang langsung kepadanya?" Didalam Adi Purana berikut ada pernyataan dari Tuhan Sri Krsna Sendiri, yang ditujukan kepada Arjuna: "Partha yang Ku kasihi, seseorang yang mengatakan dirinya adalah penyembah-Ku adalah bukan penyembah-Ku. Hanya seorang yang menyatakan dirinya adalah penyembah dari penyembah-Ku sesungguhnya adalah penyembah-Ku"

Srila Prabhupada Lautan Manisnya Rasa Bhakti - 1970 > NoD 12: Revealed Scriptures

Source in English :

"A similar statement is found in the First Canto, 19th Chapter, 30th verse, of the Śrīmad-Bhāgavatam: "There is no doubt about one's becoming freed from all reactions to sinful activities after visiting a devotee or touching his lotus feet or giving him a sitting place. Even by remembering the activities of such Vaiṣṇavas, one becomes purified, along with his whole family. And what, then, can be said of rendering direct service to him?"
In the Ādi Purāṇa there is the following statement by Lord Kṛṣṇa Himself, addressed to Arjuna: "My dear Pārtha, one who claims to be My devotee is not so. Only a person who claims to be the devotee of My devotee is actually My devotee"

Srila Prabhupada The Nectar of Devotion - 1970 > NoD 12: Revealed Scriptures







Mau Beli Buku Bhagavad-gita, Srimad-bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, dll?
Senin - Minggu - Hari Libur | 08.00 - 21.00 WIB | http://mahanilastore.blogspot.com
0812-7740-3909 dan 0819-9108-4996

SMS/PHONE  : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
                       : 0819-9109-9321 (Mahanila)
WhatsApp     : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
BBM               : 5D40CF2D dan D5E8718B

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll.

Terimakasih Atas Kunjungan Anda.

By: Sanatana Dharma Indonesia

Seseorang harus mencari seorang guru paramahamsa. Bukan kuṭīcaka, atau bahūdaka, atau parivrājakācārya.



Srila Prabhupada ... "Jadi seseorang harus mencari seorang guru paramahamsa. Bukan kuṭīcaka, atau bahūdaka, atau parivrājakācārya. Paramahaṁsa."

Srila Prabhupada ... "jika Anda tidak memiliki seorang guru yang memenuhi syarat, maka semuanya adalah gadungan (palsu). Jika anda, karena keberuntungan, jika anda mendapatkan pergaulan Guru, berkulalifikasi hamsa, paramahaṁsa ... paramahaṁsa guru berarti sanyasi tahap terakhir adalah Paramahaṁsa. Kuṭīcaka, bahūdaka, parivrājakācārya, dan paramahaṁsa, ini adalah tahap yang berbeda. Ketika seseorang mengambil sannyasa, dia tinggal di luar desa di sebuah kuṭī, di sebuah pondok, dan anggota keluarga datang dan membawakan makanan, karena ia tidak memasak. Jadi pada awalnya, dia tetap dengan pergaulan dengan tetangga atau keluarga, tetapi dia tidak memasak. Karena itu dia tinggal di luar desa, dan bila ada yang memberi makanan, dia makan. Dan ketika dia sudah berpengalaman, maka dia tidak menerima makanan dari orang lain, baik makanan dari rumahnya sendiri maupun rumah orang lain. Dia mendapatkan bahan makanan dari banyak rumah: "Berikanlah saya sepotong kecil capati." Dan orang memberinya setengah, karena mereka juga tidak terbebani. Jika mereka harus memberi, begitu banyak sannyāsīs yang datang, dan makanan yang mewah, maka bagaimana perumah tangga itu akan mampu memberi? Karena itu terlepas dari kenyataan ... Mereka tidak terlalu membebani. Mungkin akan ada datang sannyāsi lainnya, karena itu mereka memberi hanya sedikit. Madhupuri.  Para Gosvāmī berlatih ini di Vṛndāvana. Mereka hidup, tapi mereka akan memakan sedikit hanya dari rumah. Ini disebut bahūdaka. Kemudian saat ia sudah berlatih lebih banyak, ia bepergian di seluruh dunia, parivrājakācārya. Dan ketika dia sudah benar-benar berpengalaman, dalam kehidupan rohani dan segala sesuatunya, maka dia adalah Paramahamsa. Jadi seseorang harus menemukan seorang guru paramahamsa. Bukan kuṭīcaka, atau bahūdaka, atau parivrājakācārya. Paramahaṁsa."

Ceramah Srila Prabhupada: SB 5.5: Ceramah: Srimad-Bhagavatam 5.5.10-13 -- Vrndavana, 1 November 1976

Source in English :

Srila Prabhupada..."So one must find out a guru who is paramahaṁsa. Neither kuṭīcaka, nor bahūdaka, nor parivrājakācārya. Paramahaṁsa."

Srila Prabhupada..."If you do not get a qualified guru, then everything is bogus. If you, by good fortune, if you get the association of a guru, qualified haṁsa, paramahaṁsa... Paramahaṁsa guru means sannyāsī's last stage is paramahaṁsa. Kuṭīcaka, bahūdaka, parivrājakācārya, and paramahaṁsa, these are the different stages. When one takes sannyāsa, he lives outside the village in a kuṭī, in a cottage, and the family members goes and delivers him the food, because he is not practiced. So in the beginning, he keeps up this association of neighborhood or family, but he is not practiced. He therefore lives outside the village, and if somebody gives some food, he eats. Then when he becomes experienced, then he does not accept food from one, either his own home or one home. He takes foodstuff from many homes: "Give me a little piece of cāpāṭi." So somebody gives half, because they are also not overburdened. If they have to deliver, so many sannyāsīs come, and sumptuous food, then how the gṛhastha will provide? Therefore though... They do not overburden. There may be other sannyāsīs, therefore little only. Madhupuri. The Gosvāmīs practiced this madhupuri in Vṛndāvana. They lived, but they would take little only from the house. This is called bahūdaka. Then when he has practiced more, he travels all over the world, parivrājakācārya. And when he is fully experienced, then, in spiritual life and everything, then he is paramahaṁsa. So one must find out a guru who is paramahaṁsa. Neither kuṭīcaka, nor bahūdaka, nor parivrājakācārya. Paramahaṁsa."

Srila Prabhupada's Lecture : SB 5.5: Lectures : Srimad-Bhagavatam 5.5.10-13 -- Vrndavana, November 1, 1976






Mau Beli Buku Bhagavad-gita, Srimad-bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, dll?
Senin - Minggu - Hari Libur | 08.00 - 21.00 WIB | http://mahanilastore.blogspot.com
0812-7740-3909 dan 0819-9108-4996

SMS/PHONE  : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
                       : 0819-9109-9321 (Mahanila)
WhatsApp     : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
BBM               : 5D40CF2D dan D5E8718B

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll.

Terimakasih Atas Kunjungan Anda.



Srila Prabhupada ... "Jadi seseorang harus mencari seorang guru paramahamsa. Bukan kuṭīcaka, atau bahūdaka, atau parivrājakācārya. Paramahaṁsa."

Srila Prabhupada ... "jika Anda tidak memiliki seorang guru yang memenuhi syarat, maka semuanya adalah gadungan (palsu). Jika anda, karena keberuntungan, jika anda mendapatkan pergaulan Guru, berkulalifikasi hamsa, paramahaṁsa ... paramahaṁsa guru berarti sanyasi tahap terakhir adalah Paramahaṁsa. Kuṭīcaka, bahūdaka, parivrājakācārya, dan paramahaṁsa, ini adalah tahap yang berbeda. Ketika seseorang mengambil sannyasa, dia tinggal di luar desa di sebuah kuṭī, di sebuah pondok, dan anggota keluarga datang dan membawakan makanan, karena ia tidak memasak. Jadi pada awalnya, dia tetap dengan pergaulan dengan tetangga atau keluarga, tetapi dia tidak memasak. Karena itu dia tinggal di luar desa, dan bila ada yang memberi makanan, dia makan. Dan ketika dia sudah berpengalaman, maka dia tidak menerima makanan dari orang lain, baik makanan dari rumahnya sendiri maupun rumah orang lain. Dia mendapatkan bahan makanan dari banyak rumah: "Berikanlah saya sepotong kecil capati." Dan orang memberinya setengah, karena mereka juga tidak terbebani. Jika mereka harus memberi, begitu banyak sannyāsīs yang datang, dan makanan yang mewah, maka bagaimana perumah tangga itu akan mampu memberi? Karena itu terlepas dari kenyataan ... Mereka tidak terlalu membebani. Mungkin akan ada datang sannyāsi lainnya, karena itu mereka memberi hanya sedikit. Madhupuri.  Para Gosvāmī berlatih ini di Vṛndāvana. Mereka hidup, tapi mereka akan memakan sedikit hanya dari rumah. Ini disebut bahūdaka. Kemudian saat ia sudah berlatih lebih banyak, ia bepergian di seluruh dunia, parivrājakācārya. Dan ketika dia sudah benar-benar berpengalaman, dalam kehidupan rohani dan segala sesuatunya, maka dia adalah Paramahamsa. Jadi seseorang harus menemukan seorang guru paramahamsa. Bukan kuṭīcaka, atau bahūdaka, atau parivrājakācārya. Paramahaṁsa."

Ceramah Srila Prabhupada: SB 5.5: Ceramah: Srimad-Bhagavatam 5.5.10-13 -- Vrndavana, 1 November 1976

Source in English :

Srila Prabhupada..."So one must find out a guru who is paramahaṁsa. Neither kuṭīcaka, nor bahūdaka, nor parivrājakācārya. Paramahaṁsa."

Srila Prabhupada..."If you do not get a qualified guru, then everything is bogus. If you, by good fortune, if you get the association of a guru, qualified haṁsa, paramahaṁsa... Paramahaṁsa guru means sannyāsī's last stage is paramahaṁsa. Kuṭīcaka, bahūdaka, parivrājakācārya, and paramahaṁsa, these are the different stages. When one takes sannyāsa, he lives outside the village in a kuṭī, in a cottage, and the family members goes and delivers him the food, because he is not practiced. So in the beginning, he keeps up this association of neighborhood or family, but he is not practiced. He therefore lives outside the village, and if somebody gives some food, he eats. Then when he becomes experienced, then he does not accept food from one, either his own home or one home. He takes foodstuff from many homes: "Give me a little piece of cāpāṭi." So somebody gives half, because they are also not overburdened. If they have to deliver, so many sannyāsīs come, and sumptuous food, then how the gṛhastha will provide? Therefore though... They do not overburden. There may be other sannyāsīs, therefore little only. Madhupuri. The Gosvāmīs practiced this madhupuri in Vṛndāvana. They lived, but they would take little only from the house. This is called bahūdaka. Then when he has practiced more, he travels all over the world, parivrājakācārya. And when he is fully experienced, then, in spiritual life and everything, then he is paramahaṁsa. So one must find out a guru who is paramahaṁsa. Neither kuṭīcaka, nor bahūdaka, nor parivrājakācārya. Paramahaṁsa."

Srila Prabhupada's Lecture : SB 5.5: Lectures : Srimad-Bhagavatam 5.5.10-13 -- Vrndavana, November 1, 1976






Mau Beli Buku Bhagavad-gita, Srimad-bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, dll?
Senin - Minggu - Hari Libur | 08.00 - 21.00 WIB | http://mahanilastore.blogspot.com
0812-7740-3909 dan 0819-9108-4996

SMS/PHONE  : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
                       : 0819-9109-9321 (Mahanila)
WhatsApp     : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
BBM               : 5D40CF2D dan D5E8718B

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll.

Terimakasih Atas Kunjungan Anda.

By: Sanatana Dharma Indonesia

Pertama-tama Anda mengerti Kṛṣṇa, lalu kṛṣṇa-līlā. Jika Anda belum mengerti Kṛṣṇa, maka Anda akan mengira bahwa Kṛṣṇa's rāsa-līlā sama seperti kita bercampur dengan wanita muda.



Prabhupāda: ..... Guru saya Mahārāja ingin menerbitkan Govinda-līlāmṛta. Dia meminta izin dari Bhaktivinoda Ṭhākura. Jadi pertama-tama Bhaktivinoda Ṭhākura, "Akan saya katakan suatu hari nanti." Dan saat dia mengingatkan, dia berkata, "Ya, Anda bisa mencetak satu jilid. Jika Anda sangat ingin mencetaknya, cetak satu jilid. Anda akan membaca dan Anda akan melihat bahwa Anda telah mencetaknya. Bukan untuk didistribusikan (disebarluaskan)." Jadi kita mencetak semua buku ini untuk memahami dengan benar. Bukan berarti "Ini Rādhā-kuṇḍa, mari kita pergi kesana." Melompat kedalamnya seperti monyet. "Inilah rāsa-līlā. Ayo lompatlah segera ..."

Acyutānanda: Bahkan di buku Kṛṣṇa rāsa-līlā tidak boleh diceritakan di depan umum.

Prabhupāda: Tidak boleh, mengapa? Buku Kṛṣṇa pasti ada di sana, di buku pasti ada.

Acyutānanda: Tapi di depan umum ...

Prabhupāda: Tapi kamu harus menceritakannya secara bertahap. Anda harus menceritakannya secara bertahap. Pertama-tama Anda mengerti Kṛṣṇa, lalu kṛṣṇa-līlā. Jika Anda belum mengerti Kṛṣṇa, maka Anda akan mengira bahwa Kṛṣṇa's rāsa-līlā sama seperti kita bercampur dengan wanita muda. Dan pikiran seperti itu menjadi tercemar. Karena mereka tidak mengerti Kṛṣṇa. Manuṣyāṇāṁ sahasreṣu kaścid yatati siddhayeyatatām api siddhānām [Bg. 7.3]. Memahami Kṛṣṇa dengan begitu mudah? Jika Anda tidak mengerti Kṛṣṇa bagaimana Anda bisa menyampaikan kegiatan rahasia Kṛṣṇa?

Acyutānanda: Beberapa penyembah, mereka mengatakan bahwa itu adalah untuk jiwa yang terbebaskan. Jadi mereka berkata, "Baiklah, kita semua dibebaskan."

Prabhupāda: Ya. Dibebaskan menuju neraka.

Percakapan dalam Ruangan

16 Agustus 1976, Bombay
Source in English :
Prabhupāda: .....My Guru Mahārāja wanted to publish Govinda-līlāmṛta. He asked permission of Bhaktivinoda Ṭhākura. So first of all Bhaktivinoda Ṭhākura, "I'll tell you some day." And when he reminded, he said, "Yes you can print one copy. If you are so much anxious to print it, print one copy. You'll read and you will see that you have printed. Not for distribution." So we are printing all these books for understanding properly. Not that "Here is Rādhā-kuṇḍa. Let us go." Jump over like monkey. "Here is rāsa-līlā.Immediately..."
Acyutānanda: Even in Kṛṣṇa book rāsa-līlā should not be told in public.
Prabhupāda: No, why? Kṛṣṇa book must be there, in the book must be there.
Acyutānanda: But in public...
Prabhupāda: But you should go gradually. You should go gradually. You first of all understand Kṛṣṇa, then kṛṣṇa-līlā. If you have not understood Kṛṣṇa, then you'll think Kṛṣṇa's rāsa-līlā is just like we mix with young women. And that becomes as polluted. Because they do not understand Kṛṣṇa. Manuṣyāṇāṁ sahasreṣu kaścid yatati siddhayeyatatām api siddhānām [Bg. 7.3]. Kṛṣṇa understanding so easy? If you do not understand Kṛṣṇa how can you go to the Kṛṣṇa's confidential activities?
Acyutānanda: Some of the devotees, they said that it is for liberated souls. So they said, "Well, we are all liberated."
Prabhupāda: Yes. Liberated for going to hell.
Room Conversation

August 16, 1976, Bombay









Mau Beli Buku Bhagavad-gita, Srimad-bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, dll?
Senin - Minggu - Hari Libur | 08.00 - 21.00 WIB | http://mahanilastore.blogspot.com
0812-7740-3909 dan 0819-9108-4996

SMS/PHONE  : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
                       : 0819-9109-9321 (Mahanila)
WhatsApp     : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
BBM               : 5D40CF2D dan D5E8718B

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll.

Terimakasih Atas Kunjungan Anda.



Prabhupāda: ..... Guru saya Mahārāja ingin menerbitkan Govinda-līlāmṛta. Dia meminta izin dari Bhaktivinoda Ṭhākura. Jadi pertama-tama Bhaktivinoda Ṭhākura, "Akan saya katakan suatu hari nanti." Dan saat dia mengingatkan, dia berkata, "Ya, Anda bisa mencetak satu jilid. Jika Anda sangat ingin mencetaknya, cetak satu jilid. Anda akan membaca dan Anda akan melihat bahwa Anda telah mencetaknya. Bukan untuk didistribusikan (disebarluaskan)." Jadi kita mencetak semua buku ini untuk memahami dengan benar. Bukan berarti "Ini Rādhā-kuṇḍa, mari kita pergi kesana." Melompat kedalamnya seperti monyet. "Inilah rāsa-līlā. Ayo lompatlah segera ..."

Acyutānanda: Bahkan di buku Kṛṣṇa rāsa-līlā tidak boleh diceritakan di depan umum.

Prabhupāda: Tidak boleh, mengapa? Buku Kṛṣṇa pasti ada di sana, di buku pasti ada.

Acyutānanda: Tapi di depan umum ...

Prabhupāda: Tapi kamu harus menceritakannya secara bertahap. Anda harus menceritakannya secara bertahap. Pertama-tama Anda mengerti Kṛṣṇa, lalu kṛṣṇa-līlā. Jika Anda belum mengerti Kṛṣṇa, maka Anda akan mengira bahwa Kṛṣṇa's rāsa-līlā sama seperti kita bercampur dengan wanita muda. Dan pikiran seperti itu menjadi tercemar. Karena mereka tidak mengerti Kṛṣṇa. Manuṣyāṇāṁ sahasreṣu kaścid yatati siddhayeyatatām api siddhānām [Bg. 7.3]. Memahami Kṛṣṇa dengan begitu mudah? Jika Anda tidak mengerti Kṛṣṇa bagaimana Anda bisa menyampaikan kegiatan rahasia Kṛṣṇa?

Acyutānanda: Beberapa penyembah, mereka mengatakan bahwa itu adalah untuk jiwa yang terbebaskan. Jadi mereka berkata, "Baiklah, kita semua dibebaskan."

Prabhupāda: Ya. Dibebaskan menuju neraka.

Percakapan dalam Ruangan

16 Agustus 1976, Bombay
Source in English :
Prabhupāda: .....My Guru Mahārāja wanted to publish Govinda-līlāmṛta. He asked permission of Bhaktivinoda Ṭhākura. So first of all Bhaktivinoda Ṭhākura, "I'll tell you some day." And when he reminded, he said, "Yes you can print one copy. If you are so much anxious to print it, print one copy. You'll read and you will see that you have printed. Not for distribution." So we are printing all these books for understanding properly. Not that "Here is Rādhā-kuṇḍa. Let us go." Jump over like monkey. "Here is rāsa-līlā.Immediately..."
Acyutānanda: Even in Kṛṣṇa book rāsa-līlā should not be told in public.
Prabhupāda: No, why? Kṛṣṇa book must be there, in the book must be there.
Acyutānanda: But in public...
Prabhupāda: But you should go gradually. You should go gradually. You first of all understand Kṛṣṇa, then kṛṣṇa-līlā. If you have not understood Kṛṣṇa, then you'll think Kṛṣṇa's rāsa-līlā is just like we mix with young women. And that becomes as polluted. Because they do not understand Kṛṣṇa. Manuṣyāṇāṁ sahasreṣu kaścid yatati siddhayeyatatām api siddhānām [Bg. 7.3]. Kṛṣṇa understanding so easy? If you do not understand Kṛṣṇa how can you go to the Kṛṣṇa's confidential activities?
Acyutānanda: Some of the devotees, they said that it is for liberated souls. So they said, "Well, we are all liberated."
Prabhupāda: Yes. Liberated for going to hell.
Room Conversation

August 16, 1976, Bombay









Mau Beli Buku Bhagavad-gita, Srimad-bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, dll?
Senin - Minggu - Hari Libur | 08.00 - 21.00 WIB | http://mahanilastore.blogspot.com
0812-7740-3909 dan 0819-9108-4996

SMS/PHONE  : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
                       : 0819-9109-9321 (Mahanila)
WhatsApp     : 0812-7740-3909 (Mahanila) dan 0819-9108-4996 (Susanti)
BBM               : 5D40CF2D dan D5E8718B

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll.

Terimakasih Atas Kunjungan Anda.

By: Sanatana Dharma Indonesia

Ads

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

Visit Your Favorite Website Below

New Page Number

Admin Control Panel

New Post | Settings | Change Layout | Edit HTML | Moderate Comments | Sign Out

 

Mari Kita Saling Membantu Misi Srila Prabhupada Dengan Menyebarkan Buku-buku Rohani

Semua Buku Ini Dapat Dipesan Di MAHANILA STORE http://mahanilastore.blogspot.com

Hubungi: Mahanila Das di HP/WA: 0812-7740-3909

Mahanila Store

Bhagavad Gita.

Guru akan menerapkan kedisiplinan, guru karnadhara, menjewer telingamu dan menamparmu. Dengan tanpa kesal Anda akan mentolerirnya. Itulah tugas/ kewajiban seorang murid. Tapi jika Anda mengeluh, Guru akan mengusir Anda pergi, "Keluar! Kamu munafik Anda bilang Anda menjadi sisya, murid, sekarang Anda menggerutu ketika saya menerapkan kedisiplinan!

Mahanila Store

Bhagavad Gita.

Guru akan menerapkan kedisiplinan, guru karnadhara, menjewer telingamu dan menamparmu. Dengan tanpa kesal Anda akan mentolerirnya. Itulah tugas/ kewajiban seorang murid. Tapi jika Anda mengeluh, Guru akan mengusir Anda pergi, "Keluar! Kamu munafik Anda bilang Anda menjadi sisya, murid, sekarang Anda menggerutu ketika saya menerapkan kedisiplinan!

Mahanila Store

Bhagavad Gita.

Guru akan menerapkan kedisiplinan, guru karnadhara, menjewer telingamu dan menamparmu. Dengan tanpa kesal Anda akan mentolerirnya. Itulah tugas/ kewajiban seorang murid. Tapi jika Anda mengeluh, Guru akan mengusir Anda pergi, "Keluar! Kamu munafik Anda bilang Anda menjadi sisya, murid, sekarang Anda menggerutu ketika saya menerapkan kedisiplinan!

Mahanila Store

Bhagavad Gita.

Guru akan menerapkan kedisiplinan, guru karnadhara, menjewer telingamu dan menamparmu. Dengan tanpa kesal Anda akan mentolerirnya. Itulah tugas/ kewajiban seorang murid. Tapi jika Anda mengeluh, Guru akan mengusir Anda pergi, "Keluar! Kamu munafik Anda bilang Anda menjadi sisya, murid, sekarang Anda menggerutu ketika saya menerapkan kedisiplinan!

Mahanila Store

Bhagavad Gita.

Guru akan menerapkan kedisiplinan, guru karnadhara, menjewer telingamu dan menamparmu. Dengan tanpa kesal Anda akan mentolerirnya. Itulah tugas/ kewajiban seorang murid. Tapi jika Anda mengeluh, Guru akan mengusir Anda pergi, "Keluar! Kamu munafik Anda bilang Anda menjadi sisya, murid, sekarang Anda menggerutu ketika saya menerapkan kedisiplinan!

Mahanila Store

Bhagavad Gita.

Guru akan menerapkan kedisiplinan, guru karnadhara, menjewer telingamu dan menamparmu. Dengan tanpa kesal Anda akan mentolerirnya. Itulah tugas/ kewajiban seorang murid. Tapi jika Anda mengeluh, Guru akan mengusir Anda pergi, "Keluar! Kamu munafik Anda bilang Anda menjadi sisya, murid, sekarang Anda menggerutu ketika saya menerapkan kedisiplinan!

Portfolio

What we have created

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Today Quotes

Srimad Bhagavad-gita

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

Iklan Kolom 1

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

Caitanya Caritamrta

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

Iklan Kolom 2

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

The Nectar Of Devotion

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

Iklan Kolom 3

Mahanila Store Mahanila Store Mahanila Store

A Second Chance

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

Iklan Kolom 4

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)
Bouncing ball Bouncing ball Bouncing ball Sanatana Dharma Indonesia Visit Mahanila Store at http://mahanilastore.blogspot.com
[Mahanila].. [Mahanila Store].. [Sanatana Dharma Indonesia].. [Mahanila Rent Car Batam].. [Cakadola Store].. [Sadhu Guru Sastra].. [Nityam Bhagavata Sevaya]
[Cara Belanja].. [Kontak].. [About Us].. [Testimonial]..
Silahkan Preview Website Favorit Anda!

Copyright © 2013-17 Sanatana Dharma Indonesia. All Rights Reserved.