Latest Posts

Perayaan - Festival - Hari Raya 2017

ISKCON Websites

Guru Maharaja

ISKCON Websites

Horizontal Random Posts

he krishna karuna-sindho dina-bandho jagat-pate gopesa gopika-kanta radha-kanta namo 'stu te
O Sri Krishna yang hamba cintai, Andalah kawan bagi orang yang berdukacita, Andalah sumber ciptaan. Andalah tuan bagi para gopi dan Andalah yang mencintai Radharani. Hamba bersujud dengan hormat kepada Anda.


Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare

Latest News

Mohon Karunianya

Website ini kami buat dengan mengutip dari berbagai sumber seperti:
1. Bhagavad-gita Menurut Aslinya
2. Srimad Bhagavatam
3. Krishna Katha
4. Facebook, Website, dll.

Tujuan kami untuk saling berbagi pengetahuan rohani, dan tidak ada niatan kami untuk menggurui atau pun menyebarkan ketidakbaikan.

Mohon karunianya dari saudara sekalian untuk saling berbagi demi kehidupan rohani kita yang lebih baik.

Semoga niatan yang sangat kecil ini bisa membantu kita menjalani kehidupan r0hani yang semakin mantap

Terimakasih
Admin
TOP Commentators
Mahanila Store. Powered by Blogger.

Total Daily Counters (Start 02-Dec-2017)

AmazingCounters.com

Please SMS/WhatsApp or Call Mahanila Store:

WhatsApp SMS

Link menuju sms plus no HP dan body terisi Link menuju sms body terisi Link Telpon Link Telpon(call me)


Our Daily Routine Activities:

1. Chant Mahamantra Hare Krishna (16 Rounds)
2. Mangala Arathi
3. Read Srimad Bhagavatam (1 Chapter)
4. Sandhya Arathi
5. Read Srimad Bhagavad-gita (1 Chapter)
6. Study Srila Prabupada's Books/ Literatures

Sanatana Dharma Ind-Fanpage

Please SMS/WhatsApp or Call Mahanila Store:

WhatsApp SMS

Link menuju sms plus no HP dan body terisi Link menuju sms body terisi Link Telpon Link Telpon(call me)

MAHANILA STORE (HTTP://MAHANILASTORE.BLOGSPOT.COM)

Menjual buku-buku rohani Srimad Bhagavad-gita, Srimad Bhagavatam, Sri Caitanya Caritamrta, Lautan Manisnya Rasa Bhakti, Krishna Personalitas Tuhan Yang Maha Esa, Purana, Kue Kering, Dupa, Aksesoris, Kartal, Mrdanga, Saree, Air Gangga, Dipa, Kurta, Dhotti, Kipas Cemara, Kipas Bulu Merak, Poster, Japamala, Kantong Japa, Gelang, Kantimala, Rok Gopi, Choli, Blues, Pin, Bros, Kaos, Desain Website dan Database Microsoft Access, Logo, Neon Box, Safety Sign dll. Hubungi Kami di HP/WA: 0812-7740-3909

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)
Terimakasih Telah Berkunjung Ke Website Kami. Kunjungan Anda Berikutnya Sangat Kami Nantikan.

TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGANNYA

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

Srimad Bhagavad-gita




Bhagavad-gita Menurut Aslinya
Bhagavad-gita As It Is

His Divine Grace A. C. Bhaktivedanta Swami Prabhupāda
Founder Ācārya of the International Society for Krishna Consciousness


Bab 1: Meninjau Tentara-tentara di Medan Perang Kuruksetra
Chapter One: Observing the Armies on the Battlefield of Kurukṣetra
Bab 2: Ringkasan Isi Bhagavad-gita
Chapter Two: Contents of the Gītā Summarized
Bab 3: Karma-yoga
Chapter Three: Karma-yoga
Bab 4: Pengetahuan Rohani
Chapter Four: Transcendental Knowledge
Bab 5: Karma-yoga—Perbuatan dalam Kesadaran Krishna
Chapter Five: Karma-yoga – Action in Kṛṣṇa Consciousness
Bab 6: Dhyana-yoga
Chapter Six: Dhyāna-yoga
Bab 7: Pengetahuan Tentang Yang Mutlak
Chapter Seven: Knowledge of the Absolute
Bab 8: Cara Mencapai Kepada Yang Mahakuasa
Chapter Eight: Attaining the Supreme
Bab 9: Pengetahuan Yang Paling Rahasia
Chapter Nine: The Most Confidential Knowledge
Bab 10: Kehebatan Tuhan Yang Mutlak
Chapter Ten: The Opulence of the Absolute
Bab 11: Bentuk Semesta
Chapter Eleven: The Universal Form
Bab 12: Pengabdian Suci Bhakti
Chapter Twelve: Devotional Service
Bab 13: Alam, Kepribadian Yang Menikmati dan Kesadaran
Chapter Thirteen: Nature, the Enjoyer and Consciousness
Bab 14: Tiga Sifat Alam Material
Chapter Fourteen: The Three Modes of Material Nature
Bab 15: Yoga Berhubungan dengan Kepribadian Yang Paling Utama
Chapter Fifteen: The Yoga of the Supreme Person
Bab 16: Sifat Rohani dan Sifat Jahat
Chapter Sixteen: The Divine and Demoniac Natures
Bab 17: Golongan-golongan Keyakinan
Chapter Seventeen: The Divisions of Faith
Bab 18: Kesimpulan—Kesempurnaan Pelepasan Ikatan
Chapter Eighteen: Conclusion – The Perfection of Renunciation

Bab 1: Meninjau Tentara-tentara di Medan Perang KuruksetraChapter One: Observing the Armies on the Battlefield of Kurukṣetra

BG 1.1 : Dhṛtarāṣṭra berkata: Wahai Sanjaya, sesudah Putera-puteraku dan putera Pāṇḍu berkumpul di tempat suci Kuruksetra dengan keinginan untuk bertempur, apa yang dilakukan oleh mereka?
Bg 1.1 — Dhṛtarāṣṭra said: O Sañjaya, after my sons and the sons of Pāṇḍu assembled in the place of pilgrimage at Kurukṣetra, desiring to fight, what did they do?
BG 1.2 : Sañjaya berkata: Wahai Baginda Raja, sesudah meninjau tentara yang telah disusun dalam barisan-barisan oleh para putera Pāṇḍu, Raja  Duryodhana mendekati gurunya dan berkata sebagai berikut.
Bg 1.2 — Sañjaya said: O King, after looking over the army arranged in military formation by the sons of Pāṇḍu, King Duryodhana went to his teacher and spoke the following words.
BG 1.3 : Wahai Guruku, lihatlah tentara-tentara besar para putera Pandu, yang disusun dengan ahli sekali oleh putera Drupada, murid anda yang cerdas.  
Bg 1.3 — O my teacher, behold the great army of the sons of Pāṇḍu, so expertly arranged by your intelligent disciple the son of Drupada.
BG 1.4 : Di sini dalam tentara ini ada banyak pahlawan pemanah yang sehebat Bhima dan Arjuna dalam pertempuran: kesatria-kesatria yang hebat seperti Yuyudhana, Virata dan Drupada.
Bg 1.4 — Here in this army are many heroic bowmen equal in fighting to Bhīma and Arjuna: great fighters like Yuyudhāna, Virāṭa and Drupada.
BG 1.5 : Ada juga kesatria-kesatria yang hebat, perkasa dan memiliki sifat kepahlawanan seperti Dhrstaketu, Cekitana, Kasirāja, Purujit, Kuntī bhoja dan saibya.  
Bg 1.5 — There are also great heroic, powerful fighters like Dhṛṣṭaketu, Cekitāna, Kāśirāja, Purujit, Kuntibhoja and Śaibya.
BG 1.6 : Ada Yudhāmanyu yang agung, Uttamauja yang perkasa sekali, putera Subhadra dan Putera-putera Draupadi. Semua kesatria itu hebat sekali bertempur dengan menggunakan kereta.  
Bg 1.6 — There are the mighty Yudhāmanyu, the very powerful Uttamaujā, the son of Subhadrā and the sons of Draupadī. All these warriors are great chariot fighters.
BG 1.7 : Tetapi perkenankanlah saya menyampaikan keterangan kepada anda tentang komandankomandan yang mempunyai kwalifikasi luar biasa untuk memimpin bala tentara saya, wahai brahmaṇā yang paling baik.
Bg 1.7 — But for your information, O best of the brāhmaṇas, let me tell you about the captains who are especially qualified to lead my military force.
BG 1.8 : Ada tokoh-tokoh seperti Prabhu sendiri, Bhīṣma, Karṇa, Krpa, Asvatthama, Vikarna dan putera Somadatta bernama Bhurisrava, yangselalu menang dalam perang.
Bg 1.8 — There are personalities like you, Bhīṣma, Karṇa, Kṛpa, Aśvatthāmā, Vikarṇa and the son of Somadatta called Bhūriśravā, who are always victorious in battle.
BG 1.9 : Ada banyak pahlawan lain yang bersedia mengorbankan nyawanya demi kepentingan saya. Semuanya dilengkapi dengan pelbagai jenis senjata, dan berpengalaman di bidang ilmu militer.
Bg 1.9 — There are many other heroes who are prepared to lay down their lives for my sake. All of them are well equipped with different kinds of weapons, and all are experienced in military science.
BG 1.10 : Kekuatan kita tidak dapat diukur, dan kita dilindungi secara sempurna oleh kakek Bhīṣma, sedangkan para Pandava, yang dilindungi dengan teliti oleh Bhima, hanya mempunyai kekuatan yang terbatas.
Bg 1.10 — Our strength is immeasurable, and we are perfectly protected by Grandfather Bhīṣma, whereas the strength of the Pāṇḍavas, carefully protected by Bhīma, is limited.
BG 1.11 : Sekarang anda semua harus memberi dukungan sepenuhnya kepada Kakek Bhīṣma, sambil berdiri di ujungujung strategis masing-masing di gerbanggerbang barisan tentara.
Bg 1.11 — All of you must now give full support to Grandfather Bhīṣma, as you stand at your respective strategic points of entrance into the phalanx of the army.
BG 1.12 : Kemudian Bhīṣma, leluhur agung dinasti Kuru yang gagah berani, kakek para kesatria, meniup kerangnya dengan keras sekali bagaikan suara singa sehingga Duryodhana merasa riang.
Bg 1.12 — Then Bhīṣma, the great valiant grandsire of the Kuru dynasty, the grandfather of the fighters, blew his conchshell very loudly, making a sound like the roar of a lion, giving Duryodhana joy.
BG 1.13 : Sesudah itu, kerang-kerang, gendang-gendang, bedug, dan berbagai jenis terompet semuanya dibunyikan seketika, sehingga paduan suaranya menggemparkan.
Bg 1.13 — After that, the conchshells, drums, bugles, trumpets and horns were all suddenly sounded, and the combined sound was tumultuous.
BG 1.14 : Di pihak lawan, Sri Krishna bersama Arjuna yang mengendarai kereta megah yang ditarik oleh kudakuda berwarna putih juga membunyikan kerangkerang rohani mereka.  
Bg 1.14 — On the other side, both Lord Kṛṣṇa and Arjuna, stationed on a great chariot drawn by white horses, sounded their transcendental conchshells.
BG 1.15 : Kemudian Sri Krishna meniup kerang-Nya yang bernama Pancajanya; Arjuna meniup kerangnya bernama Devadatta; dan Bhima, pelahap dan pelaksana tugas-tugas yang berat sekali, meniup kerangnya yang mengerikan bernama Paundra.  
Bg 1.15 — Lord Kṛṣṇa blew His conchshell, called Pāñcajanya; Arjuna blew his, the Devadatta; and Bhīma, the voracious eater and performer of herculean tasks, blew his terrific conchshell, called Pauṇḍra.
BG 1.16-18: Rājā  Yudhisthira, putera Kuntī, meniup kerangnya yang bernama Anantavijaya, Nakula dan Sahadeva meniup kerangnya bernama Sughosa dan Manipuspaka. Pemanah yang perkasa raja Kasi, ksatria hebat yang bernama sikandi, Dhrstadyumna, Virata dan Satyaki yang tidak pernah dikalahkan, Drupada, para putera Draupadi, dan lain-lain, seperti putera Subhadra, yang berlengan perkasa, semua meniup kerang-kerangnya masing-masing; wahai Baginda Raja.
Bg 1.16-18 — King Yudhiṣṭhira, the son of Kuntī, blew his conchshell, the Ananta-vijaya, and Nakula and Sahadeva blew the Sughoṣa and Maṇipuṣpaka. That great archer the King of Kāśī, the great fighter Śikhaṇḍī, Dhṛṣṭadyumna, Virāṭa, the unconquerable Sātyaki, Drupada, the sons of Draupadī, and others, O King, such as the mighty-armed son of Subhadrā, all blew their respective conchshells.
BG 1.19 : Berbagai jenis kerang tersebut ditiup hingga menggemparkan. Suara kerangkerang bergema baik di langit maupun di bumi, hingga mematahkan hati para putera Dhṛtarāṣṭra.
Bg 1.19 — The blowing of these different conchshells became uproarious. Vibrating both in the sky and on the earth, it shattered the hearts of the sons of Dhṛtarāṣṭra.
BG 1.20 : Pada waktu itu, Arjuna, putera Pandu, yang sedang duduk di atas kereta, yang benderanya berlambang Hanuman, mengangkat busurnya dan berSiap-siap untuk melepaskan anak panahnya. Wahai Paduka Raja, sesudah memandang Putera-putera Dhṛtarāṣṭra, lalu Arjuna berkata kepada Hrsikesa (Krishna) sebagai berikut:
Bg 1.20 — At that time Arjuna, the son of Pāṇḍu, seated in the chariot bearing the flag marked with Hanumān, took up his bow and prepared to shoot his arrows. O King, after looking at the sons of Dhṛtarāṣṭra drawn in military array, Arjuna then spoke to Lord Kṛṣṇa these words.
BG 1.21-22: Arjuna berkata: Wahai Krishna yang tidak pernah gagal, mohon membawa kereta saya di tengah-tengah antara kedua tentara agar saya dapat melihat siapa yang ingin bertempur di sini dan siapa yang harus saya hadapi dalam usaha perang yang besar ini.  
Bg 1.21-22 — Arjuna said: O infallible one, please draw my chariot between the two armies so that I may see those present here, who desire to fight, and with whom I must contend in this great trial of arms.

BG 1.23 :  Perkenankanlah saya melihat mereka yang datang ke sini untuk bertempur karena keinginan mereka untuk menyenangkan hati putera Dhṛtarāṣṭra yang berpikiran jahat.
Bg 1.23 — Let me see those who have come here to fight, wishing to please the evil-minded son of Dhṛtarāṣṭra.
BG 1.24 : Sañjaya berkata: wahai putera keluarga Bhārata, setelah disapa oleh Arjuna, Sri Krishna membawa kereta yang bagus itu ke tengah-tengah antara tentara-tentara  kedua belah pihak.  
Bg 1.24 — Sañjaya said: O descendant of Bharata, having thus been addressed by Arjuna, Lord Kṛṣṇa drew up the fine chariot in the midst of the armies of both parties.
BG 1.25 : Di hadapan Bhīṣma, Drona dan semua pemimpin dunia lainnya, Sri Krishna bersabda, wahai Pārtha, lihatlah para Kuru yang sudah berkumpul di sini.  
Bg 1.25 — In the presence of Bhīṣma, Droṇa and all the other chieftains of the world, the Lord said, “Just behold, Pārtha, all the Kurus assembled here.”
BG 1.26 : Di sana di tengah-tengah tentara-tentara  kedua belah pihak Arjuna dapat melihat para ayah, kakek, guru, paman dari keluarga ibu, saudara, putera, cucu, kawan, mertua dan orang-orang yang mengharapkan kesejahteraannya semua hadir di sana.
Bg 1.26 — There Arjuna could see, within the midst of the armies of both parties, his fathers, grandfathers, teachers, maternal uncles, brothers, sons, grandsons, friends, and also his fathers-in-law and well-wishers.
BG 1.27 : Ketika Arjuna, putera Kuntī, melihat berbagai kawan dan sanak keluarga ini, hatinya tergugah rasa kasih sayang dan dia berkata sebagai berikut.
Bg 1.27 — When the son of Kuntī, Arjuna, saw all these different grades of friends and relatives, he became overwhelmed with compassion and spoke thus.
BG 1.28 : Arjuna berkata: Krishna yang baik hati, setelah melihat kawan-kawan dan sanak keluarga di hadapan saya dengan semangat untuk bertempur seperti itu, saya merasa anggota badan-badan saya gemetar dan mulut saya terasa kering.  
Bg 1.28 — Arjuna said: My dear Kṛṣṇa, seeing my friends and relatives present before me in such a fighting spirit, I feel the limbs of my body quivering and my mouth drying up.
BG 1.29 : Seluruh badan saya gemetar, dan bulu roma berdiri. Busur Gandeva terlepas dari tangan saya, dan kulit saya terasa terbakar.  
Bg 1.29 — My whole body is trembling, my hair is standing on end, my bow Gāṇḍīva is slipping from my hand, and my skin is burning.
BG 1.30 : Saya tidak tahan lagi berdiri di sini. Saya lupa akan diri, dan pikiran saya kacau. O Krishna, saya hanya dapat melihat sebab-sebab malapetaka saja, wahai pembunuh raksasa bernama Kesi.  
Bg 1.30 — I am now unable to stand here any longer. I am forgetting myself, and my mind is reeling. I see only causes of misfortune, O Kṛṣṇa, killer of the Keśī demon.
BG 1.31 : Saya tidak dapat melihat bagaimana hal-hal yang baik dapat diperoleh kalau saya membunuh sanak keluarga sendiri dalam perang ini. Krishna yang baik hati, saya juga tidak dapat menginginkan kejayaan, kerajaan , maupun kebahagiaan sebagai akibat perbuatan seperti itu.  
Bg 1.31 — I do not see how any good can come from killing my own kinsmen in this battle, nor can I, my dear Kṛṣṇa, desire any subsequent victory, kingdom or happiness.
BG 1.32-35: O Govinda, barangkali kita menginginkan kerajaan , kebahagiaan, ataupun kehidupan untuk orang tertentu, tetapi apa gunanya kerajaan , kebahagiaan ataupun kehidupan bagi kita kalau mereka sekarang tersusun pada medan perang ini? O Madhusūdana, apabila para guru, ayah, putera, kakek, paman dari keluarga ibu, mertua, cucu, ipar dan semua sanak keluarga bersedia mengorbankan nyawa dan harta bendanya dan sekarang berdiri di hadapan saya, mengapa saya harus berhasrat membunuh mereka, meskipun kalau saya tidak membunuh mereka, mungkin mereka akan membunuh saya? Wahai Pemelihara semua makhluk hidup, jangankan untuk bumi ini, untuk imbalan seluruh tiga dunia ini pun saya tidak bersedia bertempur melawan mereka. Kesenangan apa yang akan kita peroleh kalau kita membunuh para putera Dhṛtarāṣṭra ?  
Bg 1.32-35 — O Govinda, of what avail to us are a kingdom, happiness or even life itself when all those for whom we may desire them are now arrayed on this battlefield? O Madhusūdana, when teachers, fathers, sons, grandfathers, maternal uncles, fathers-in-law, grandsons, brothers-in-law and other relatives are ready to give up their lives and properties and are standing before me, why should I wish to kill them, even though they might otherwise kill me? O maintainer of all living entities, I am not prepared to fight with them even in exchange for the three worlds, let alone this earth. What pleasure will we derive from killing the sons of Dhṛtarāṣṭra?
BG 1.36 : Kita akan dikuasai oleh dosa kalau kita membunuh penyerang seperti itu. Karena itu, tidak pantas kalau kita membunuh para putera Dhṛtarāṣṭra dan kawan-kawan kita. O Krishna, suami Dewi Keberuntungan, apa untungnya bagi kita, dan bagaimana mungkin kita berbahagia dengan membunuh sanak keluarga kita sendiri?
Bg 1.36 — Sin will overcome us if we slay such aggressors. Therefore it is not proper for us to kill the sons of Dhṛtarāṣṭra and our friends. What should we gain, O Kṛṣṇa, husband of the goddess of fortune, and how could we be happy by killing our own kinsmen?
BG 1.37-38: O Janārdana, walaupun orang ini yang sudah dikuasai oleh kelobaan tidak melihat kesalahan dalam membunuh keluarga sendiri atau bertengkar dengan kawankawan, mengapa kita yang dapat melihat bahwa membinasakan satu keluarga adalah kejahatan harus melakukan perbuatan berdosa seperti itu?
Bg 1.37-38 — O Janārdana, although these men, their hearts overtaken by greed, see no fault in killing one’s family or quarreling with friends, why should we, who can see the crime in destroying a family, engage in these acts of sin?
BG 1.39 : Dengan hancurnya sebuah dinasti, seluruh tradisi keluarga yang kekal dihancurkan, dan dengan demikian sisa keluarga akan terlibat dalam kebiasaan yang bertentangan dengan dharma.  
Bg 1.39 — With the destruction of the dynasty, the eternal family tradition is vanquished, and thus the rest of the family becomes involved in irreligion.
BG 1.40 : O Krishna, apabila hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela dalam keluarga, kaum wanita dalam keluarga ternoda, dan dengan merosotnya kaum wanita, lahirlah keturunan yang tidak diinginkan, wahai putera keluarga Vṛṣṇi.  
Bg 1.40 — When irreligion is prominent in the family, O Kṛṣṇa, the women of the family become polluted, and from the degradation of womanhood, O descendant of Vṛṣṇi, comes unwanted progeny.
BG 1.41 : Meningkatnya jumlah penduduk yang tidak diinginkan tentu saja menyebabkan keadaan seperti di neraka baik bagi keluarga maupun mereka yang membinasakan tradisi keluarga. Leluhur keluargakeluarga yang sudah merosot seperti itu jatuh, sebab upacara-upacara untuk mempersembahkan makanan dan air kepada leluhur terhenti sama sekali.
Bg 1.41 — An increase of unwanted population certainly causes hellish life both for the family and for those who destroy the family tradition. The ancestors of such corrupt families fall down, because the performances for offering them food and water are entirely stopped.

BG 1.42 :  Akibat perbuatan jahat para penghancur tradisi keluarga yang menyebabkan lahirnya anak-anak yang tidak diinginkan, segala jenis program masyarakat dan kegiatan demi kesejahteraan keluarga akan binasa.
Bg 1.42 — By the evil deeds of those who destroy the family tradition and thus give rise to unwanted children, all kinds of community projects and family welfare activities are devastated.
BG 1.43 : O Krishna, pemelihara rakyat, saya sudah mendengar menurut garis perguruan bahwa orang yang membinasakan tradisitradisi keluarga selalu tinggal di neraka.  
Bg 1.43 — O Kṛṣṇa, maintainer of the people, I have heard by disciplic succession that those whose family traditions are destroyed dwell always in hell.
BG 1.44 : Aduh, alangkah anehnya bahwa kita sedang bersiap-siap untuk melakukan kegiatan yang sangat berdosa. Didorong oleh keinginan untuk menikmati kesenangan kerajaan, kita sudah bertekad membunuh sanak keluarga sendiri.  
Bg 1.44 — Alas, how strange it is that we are preparing to commit greatly sinful acts. Driven by the desire to enjoy royal happiness, we are intent on killing our own kinsmen.
BG 1.45 : Lebih baik bagi saya kalau para putera Dhṛtarāṣṭra yang membawa senjata di tangan membunuh saya yang tidak membawa senjata dan tidak melawan di medan perang.  
Bg 1.45 — Better for me if the sons of Dhṛtarāṣṭra, weapons in hand, were to kill me unarmed and unresisting on the battlefield.
BG 1.46 : Sañjaya berkata: Setelah berkata demikian di medan perang, Arjuna meletakkan busur dan anak panahnya, lalu duduk dalam kereta. Pikiran Arjuna tergugah oleh rasa sedih.  
Bg 1.46 — Sañjaya said: Arjuna, having thus spoken on the battlefield, cast aside his bow and arrows and sat down on the chariot, his mind overwhelmed with grief.



Bab 2: Ringkasan Isi Bhagavad-gita
BG 2.1 : Sañjaya berkata: setelah melihat Arjuna tergugah rasa kasih sayang dan murung, matanya penuh air mata, Madhusūdana, Krishna, bersabda sebagai berikut. 
Bg 2.1 — Sañjaya said: Seeing Arjuna full of compassion, his mind depressed, his eyes full of tears, Madhusūdana, Kṛṣṇa, spoke the following words.

BG 2.2 : Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: Arjuna yang baik hati, bagaimana sampai hal-hal yang kotor ini menghinggapi dirimu? Hal-hal ini sama sekali tidak pantas bagi orang yang mengetahui nilai hidup. Hal-hal seperti itu tidak membawa seseorang ke planet-planet yang lebih tinggi, melainkan menjerumuskan Diri-Nya ke dalam penghinaan. 
Bg 2.2 — The Supreme Personality of Godhead said: My dear Arjuna, how have these impurities come upon you? They are not at all befitting a man who knows the value of life. They lead not to higher planets but to infamy.
BG 2.3 : Wahai putera Pṛthā, jangan menyerah kepada kelemahan yang hina ini. Itu tidak pantas bagimu. Tinggalkanlah kelemahan hati yang remeh itu dan bangunlah, wahai yang menghukum musuh. 
Bg 2.3 — O son of Pṛthā, do not yield to this degrading impotence. It does not become you. Give up such petty weakness of heart and arise, O chastiser of the enemy.

BG 2.4 : Arjuna berkata: O Pembunuh musuh, o Pembunuh Madhu, bagaimana saya dapat membalas serangan orang seperti Bhīṣma dan Drona dengan panah pada medan perang, padahal seharusnya saya menyembah mereka? 
Bg 2.4 — Arjuna said: O killer of enemies, O killer of Madhu, how can I counterattack with arrows in battle men like Bhīṣma and Droṇa, who are worthy of my worship?

BG 2.5 : Lebih baik saya hidup di dunia ini dengan cara mengemis daripada hidup sesudah mencabut nyawa roh-roh mulia seperti itu, yaitu guru-guru saya. Kendatipun mereka menginginkan keuntungan duniawi, mereka tetap atasan. Kalau mereka terbunuh, segala sesuatu yang kita nikmati akan ternoda dengan darah.
Bg 2.5 — It would be better to live in this world by begging than to live at the cost of the lives of great souls who are my teachers. Even though desiring worldly gain, they are superiors. If they are killed, everything we enjoy will be tainted with blood.
BG 2.6 : Kita juga tidak mengetahui mana yang lebih baik—mengalahkan mereka atau dikalahkan oleh mereka. Kalau kita membunuh para putera Dhṛtarāṣṭra, kita tidak mau hidup. Namun mereka sekarang berdiri di hadapan kita di medan perang. 
Bg 2.6 — Nor do we know which is better – conquering them or being conquered by them. If we killed the sons of Dhṛtarāṣṭra, we should not care to live. Yet they are now standing before us on the battlefield.

BG 2.7 : Sekarang hamba kebingungan tentang kewajiban hamba dan sudah kehilangan segala ketenangan karena kelemahan yang picik. Dalam keadaan ini, hamba mohon agar Anda memberitahukan dengan pasti apa yang paling baik untuk hamba. Sekarang hamba menjadi murid Anda, dan roh yang sudah menyerahkan diri kepada Anda. Mohon memberi pelajaran kepada hamba. 
Bg 2.7 — Now I am confused about my duty and have lost all composure because of miserly weakness. In this condition I am asking You to tell me for certain what is best for me. Now I am Your disciple, and a soul surrendered unto You. Please instruct me.

BG 2.8 : Hamba tidak dapat menemukan cara untuk menghilangkan rasa sedih ini yang menyebabkan indera-indera hamba menjadi kering. Hamba tidak akan dapat menghilangkan rasa itu, meskipun hamba memenangkan kerajaan yang makmur yang tiada taranya di bumi ini dengan kedaulatan seperti para dewa di surga.
Bg 2.8 — I can find no means to drive away this grief which is drying up my senses. I will not be able to dispel it even if I win a prosperous, unrivaled kingdom on earth with sovereignty like the demigods in heaven.

BG 2.9 : Sañjaya berkata: Setelah berkata demikian, Arjuna, perebut musuh, menyatakan kepada Krishna, Govinda, hamba tidak akan bertempur," lalu diam. 
Bg 2.9 — Sañjaya said: Having spoken thus, Arjuna, chastiser of enemies, told Kṛṣṇa, “Govinda, I shall not fight,” and fell silent.

BG 2.10 : Wahai putera keluarga Bhārata, pada waktu itu, Krishna, yang tersenyum di tengah-tengah antara tentara-tentara  kedua belah pihak, bersabda kepada Arjuna yang sedang tergugah oleh rasa sedih. 
Bg 2.10 — O descendant of Bharata, at that time Kṛṣṇa, smiling, in the midst of both the armies, spoke the following words to the grief-stricken Arjuna.

BG 2.11 : Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: Sambil berbicara dengan cara yang pandai engkau menyesalkan sesuatu yang tidak patut disesalkan. Orang bijaksana tidak pernah menyesal, baik untuk yang masih hidup maupun untuk yang sudah meninggal. 
Bg 2.11 — The Supreme Personality of Godhead said: While speaking learned words, you are mourning for what is not worthy of grief. Those who are wise lament neither for the living nor for the dead.
BG 2.12 : Pada masa lampau tidak pernah ada suatu saat pun Aku, engkau maupun semua rājā  ini tidak ada; dan pada masa yang akan datang tidak satupun di antara kita semua akan lenyap. 
Bg 2.12 — Never was there a time when I did not exist, nor you, nor all these kings; nor in the future shall any of us cease to be.

BG 2.13 : Seperti halnya sang roh terkurung di dalam badan terus menerus mengalami perpindahan, di dalam badan ini, dari masa kanak-kanak sampai masa remaja sampai usia tua, begitu juga sang roh masuk ke dalam badan lain pada waktu meninggal. Orang yang tenang tidak bingung karena penggantian itu. 
Bg 2.13 — As the embodied soul continuously passes, in this body, from boyhood to youth to old age, the soul similarly passes into another body at death. A sober person is not bewildered by such a change.

BG 2.14 : Wahai putera Kuntī, suka dan duka muncul untuk sementara dan hilang sesudah beberapa waktu, bagaikan mulai dan berakhirnya musim dingin dan musim panas. Hal-hal itu timbul dari penglihatan indera, dan seseorang harus belajar cara mentolerir hal-hal itu tanpa goyah, wahai putera keluarga Bhārata.
Bg 2.14 — O son of Kuntī, the nonpermanent appearance of happiness and distress, and their disappearance in due course, are like the appearance and disappearance of winter and summer seasons. They arise from sense perception, O scion of Bharata, and one must learn to tolerate them without being disturbed.

BG 2.15 : Wahai manusia yang paling baik (Arjuna), orang yang tidak goyahkarena suka ataupun duka dan mantap dalam kedua keadaan itu pasti memenuhi syarat untuk mencapai pembebasan. 
Bg 2.15 — O best among men [Arjuna], the person who is not disturbed by happiness and distress and is steady in both is certainly eligible for liberation.

BG 2.16 : Orang yang melihat kebenaran sudah menarik kesimpulan bahwa apa yang tidak ada [badan jasmani] tidak tahan lama dan yang kekal [sang roh] tidak berubah. Inilah kesimpulan mereka setelah mempelajari sifat kedua-duanya.
Bg 2.16 — Those who are seers of the truth have concluded that of the nonexistent [the material body] there is no endurance and of the eternal [the soul] there is no change. This they have concluded by studying the nature of both.

BG 2.17 : Hendaknya engkau mengetahui bahwa apa yang ada dalam seluruh badan tidak dapat dimusnahkan. Tidak seorangpun dapat membina sakan sang roh yang tidak dapat dimusnahkan itu. 
Bg 2.17 — That which pervades the entire body you should know to be indestructible. No one is able to destroy that imperishable soul.

BG 2.18 : Makhluk hidup yang tidak dapat dimusnahkan atau diukur dan bersifat kekal, memiliki badan jasmani yang pasti akan berakhir. Karena itu, bertempurlah, wahai putera keluarga Bhārata. 
Bg 2.18 — The material body of the indestructible, immeasurable and eternal living entity is sure to come to an end; therefore, fight, O descendant of Bharata.

BG 2.19 : Orang yang menganggap bahwa makhluk hidup membunuh ataupun makhluk hidup dibunuh tidak memiliki pengetahuan, sebab sang diri tidak membunuh dan tidak dapat dibunuh. 
Bg 2.19 — Neither he who thinks the living entity the slayer nor he who thinks it slain is in knowledge, for the self slays not nor is slain.

BG 2.20 : Tidak ada kelahiran maupun kematian bagi sang roh pada saat manapun. Dia tidak diciptakan pada masa lampau, ia tidak diciptakan pada masa sekarang, dan dia tidak akan diciptakan pada masa yang akan datang. Dia tidak dilahirkan, berada untuk selamanya dan bersifat abadi. Dia tidak terbunuh apabila badan dibunuh. 
Bg 2.20 — For the soul there is neither birth nor death at any time. He has not come into being, does not come into being, and will not come into being. He is unborn, eternal, ever-existing and primeval. He is not slain when the body is slain.

BG 2.21 : Wahai Pārtha, bagaimana mungkin orang yang mengetahui bahwa sang roh tidak dapat dimusnahkan, bersifat kekal, tidak dilahirkan dan tidak pernah berubah dapat membunuh seseorang atau menyebabkan seseorang membunuh? 
Bg 2.21 — O Pārtha, how can a person who knows that the soul is indestructible, eternal, unborn and immutable kill anyone or cause anyone to kill?

BG 2.22 : Seperti halnya seseorang mengenakan pakaian baru, dan membuka pakaian lama, begitu pula sang roh menerima badan-badan jasmani yang baru, dengan meninggalkan badan-badan lama yang tidak berguna.
Bg 2.22 — As a person puts on new garments, giving up old ones, the soul similarly accepts new material bodies, giving up the old and useless ones.

BG 2.23 : Sang roh tidak pernah dapat dipotong menjadi bagian-bagian oleh senjata manapun, dibakar oleh api, dibasahi oleh air, atau dikeringkan oleh angin. 
Bg 2.23 — The soul can never be cut to pieces by any weapon, nor burned by fire, nor moistened by water, nor withered by the wind.

BG 2.24 : Roh yang individual ini tidak dapat dipatahkan dan tidak dapat dilarutkan, dibakar ataupun dikeringkan. Ia hidup untuk selamanya, berada di mana-mana, tidak dapat diubah, tidak dapat dipindahkan dan tetap sama untuk selamanya.
Bg 2.24 — This individual soul is unbreakable and insoluble, and can be neither burned nor dried. He is everlasting, present everywhere, unchangeable, immovable and eternally the same.

BG 2.25 : Dikatakan bahwa sang roh itu tidak dapat dilihat, tidak dapat dipahami dan tidak dapat diubah. Mengingat kenyataan itu, hendaknya engkau jangan menyesal karena badan. 
Bg 2.25 — It is said that the soul is invisible, inconceivable and immutable. Knowing this, you should not grieve for the body.

BG 2.26 : Akan tetapi, kalau engkau berpikir bahwa sang roh [atau gejala gejala hidup] senantiasa dilahirkan dan selalu mati, toh engkau masih tidak mempunyai alasan untuk menyesal, wahai Arjuna yang berlengan perkasa. 
Bg 2.26 — If, however, you think that the soul [or the symptoms of life] will always be born and die forever, you still have no reason to lament, O mighty-armed.
BG 2.26 : Jendral-jendral besar yang sangat menghargai nama dan kemashyuranmu akan menganggap engkau meninggalkan medan perang karena rasa takut saja, dan dengan demikian mereka akan meremehkan engkau. 
BG 2.27 : Orang yang sudah dilahirkan pasti akan meninggal, dan sesudah kematian, seseorang pasti akan dilahirkan lagi. Karena itu, dalam melaksanakan tugas kewajibanmu yang tidak dapat dihindari, hendaknya engkau jangan menyesal. 
Bg 2.27 — One who has taken his birth is sure to die, and after death one is sure to take birth again. Therefore, in the unavoidable discharge of your duty, you should not lament.

BG 2.28 : Semua makhluk yang diciptakan tidak terwujud pada awalnya, terwujud pada pertengahan, dan sekali lagi tidak terwujud pada waktu dileburkan. Jadi apa yang perlu disesalkan? 



Bg 2.28 — All created beings are unmanifest in their beginning, manifest in their interim state, and unmanifest again when annihilated. So what need is there for lamentation?

BG 2.29 : Beberapa orang memandang bahwa sang roh sebagai sesuatu yang mengherankan, beberapa orang menguraikan dia sebagai sesuatu yang mengherankan, dan beberapa orang mendengar tentang dia sebagai sesuatu yang mengherankan juga, sedangkan orang lain tidak dapat mengerti sama sekali tentang sang roh, walaupun mereka sudah mendengar tentang dia. 
Bg 2.29 — Some look on the soul as amazing, some describe him as amazing, and some hear of him as amazing, while others, even after hearing about him, cannot understand him at all.

BG 2.30 : O putera keluarga Bhārata, dia yang tinggal dalam badan tidak pernah dapat dibunuh. Karena itu, engkau tidak perlu bersedih hati untuk makhluk manapun. 

Bg 2.30 — O descendant of Bharata, he who dwells in the body can never be slain. Therefore you need not grieve for any living being.

BG 2.31 : Mengingat tugas kewajibanmu yang khusus sebagai seorang ksatriya, hendaknya engkau mengetahui bahwa tiada kesibukan yang lebih baik untukmu daripada bertempur berdasarkan prinsip-prinsip dharma; karena itu, engkau tidak perlu ragu-ragu. 
Bg 2.31 — Considering your specific duty as a kṣatriya, you should know that there is no better engagement for you than fighting on religious principles; and so there is no need for hesitation.

BG 2.32 : Wahai Pārtha, berbahagialah para ksatriya yang mendapatkan kesempatan untuk bertempur seperti itu tanpa mencarinya—kesempatan yang membuka pintu gerbang planet-planet surga bagi mereka. 
Bg 2.32 — O Pārtha, happy are the kṣatriyas to whom such fighting opportunities come unsought, opening for them the doors of the heavenly planets.

BG 2.33 : Akan tetapi, apabila engkau tidak melaksanakan kewajiban dharmamu, yaitu bertempur, engkau pasti menerima dosa akibat melalaikan kewajibanmu, dan dengan demikian kemashyuranmu sebagai kesatria akan hilang. 

Bg 2.33 — If, however, you do not perform your religious duty of fighting, then you will certainly incur sins for neglecting your duties and thus lose your reputation as a fighter.

BG 2.34 : Orang akan selalu membicarakan engkau sebagai orang yang hina, dan bagi orang yang terhormat, penghinaan lebih buruk daripada kematian. 
Bg 2.34 — People will always speak of your infamy, and for a respectable person, dishonor is worse than death.

BG 2.35 : Jendral-jendral besar yang sangat menghargai nama dan kemashyuranmu akan menganggap engkau meninggalkan medan perang karena rasa takut saja, dan dengan demikian mereka akan meremehkan engkau.
Bg 2.35 — The great generals who have highly esteemed your name and fame will think that you have left the battlefield out of fear only, and thus they will consider you insignificant.

BG 2.36 : Musuh-musuhmu akan menjuluki engkau dengan banyak kata yang tidak baik dan mengejek kesanggupanmu. Apa yang dapat lebih menyakiti hatimu daripada itu? 
Bg 2.36 — Your enemies will describe you in many unkind words and scorn your ability. What could be more painful for you?

BG 2.37 : Wahai putera Kuntī, engkau akan terbunuh di medan perang dan mencapai planet-planet surga atau engkau akan menang dan menikmati kerajaan di dunia. Karena itu, bangunlah dan bertempur dengan ketabahan hati. 
Bg 2.37 — O son of Kuntī, either you will be killed on the battlefield and attain the heavenly planets, or you will conquer and enjoy the earthly kingdom. Therefore, get up with determination and fight.

BG 2.38 : Bertempurlah demi pertempuran saja, tanpa mempertimbangkan suka atau duka, rugi atau laba, menang atau kalaḥ—dengan demikian, engkau tidak akan pernah dipengaruhi oleh dosa. 
Bg 2.38 — Do thou fight for the sake of fighting, without considering happiness or distress, loss or gain, victory or defeat – and by so doing you shall never incur sin.

BG 2.39 : Sampai sekarang, Aku sudah menguraikan tentang pengetahuan ini kepadamu melalui pelajaran analisis. Sekarang, dengarlah penjelasan-Ku tentang hal ini menurut cara bekerja tanpa mengharapkan hasil atau pahala. Wahai putera Pṛthā, bila engkau bertindak dengan pengetahuan seperti itu engkau dapat membebaskan diri dari ikatan pekerjaan.
Bg 2.39 — Thus far I have described this knowledge to you through analytical study. Now listen as I explain it in terms of working without fruitive results. O son of Pṛthā, when you act in such knowledge you can free yourself from the bondage of works.

BG 2.40 : Dalam usaha ini tidak ada kerugian ataupun pengurangan, dan sedikitpun kemajuan dalam menempuh jalan ini dapat melindungi seseorang terhadap rasa takut yang paling berbahaya.
Bg 2.40 — In this endeavor there is no loss or diminution, and a little advancement on this path can protect one from the most dangerous type of fear.

BG 2.41 : Orang yang menempuh jalan ini bertabah hati dengan mantap, dan tujuan mereka satu saja. Wahai putera kesayangan para Kuru, kecerdasan orang yang tidak bertabah hati mempunyai banyak cabang. 
Bg 2.41 — Those who are on this path are resolute in purpose, and their aim is one. O beloved child of the Kurus, the intelligence of those who are irresolute is many-branched.

BG 2.42-43: Orang yang kekurangan pengetahuan sangat terikat pada kata-kata kiasan dari Veda, yang menganjurkan berbagai kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan pahala agar dapat naik tingkat sampai planet-planet surga, kelahiran yang baik sebagai hasilnya, kekuatan, dan sebagainya. Mereka menginginkan kepuasan indera-indera dan kehidupan yang mewah, sehingga mereka mengatakan bahwa tiada sesuatupun yang lebih tinggi dari ini, wahai putera Pṛthā. 
Bg 2.42-43 — Men of small knowledge are very much attached to the flowery words of the Vedas, which recommend various fruitive activities for elevation to heavenly planets, resultant good birth, power, and so forth. Being desirous of sense gratification and opulent life, they say that there is nothing more than this.

BG 2.44 : Ketabahan hati yang mantap untuk berbhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak pernah timbul di dalam pikiran orang yang terlalu terikat pada kenikmatan indera-indera dan kekayaan material. 
Bg 2.44 — In the minds of those who are too attached to sense enjoyment and material opulence, and who are bewildered by such things, the resolute determination for devotional service to the Supreme Lord does not take place.

bg 2.45 : Veda sebagian besar menyangkut tiga sifat alam. Wahai Arjuna, lampauilah tiga sifat alam itu. Bebaskanlah dirimu dari segala hal yang relatif dan segala kecemasan untuk keuntungan dan keselamatan dan jadilah mantap dalam sang diri. 
Bg 2.45 — The Vedas deal mainly with the subject of the three modes of material nature. O Arjuna, become transcendental to these three modes. Be free from all dualities and from all anxieties for gain and safety, and be established in the self.

BG 2.46 : Segala tujuan yang dipenuhi oleh sumur kecil dapat segera dipenuhi oleh sumber air yang besar. Begitu pula, segala tujuan Veda dapat segera dipenuhi bagi orang yang mengetahui maksud dasar Veda itu. 
Bg 2.46 — All purposes served by a small well can at once be served by a great reservoir of water. Similarly, all the purposes of the Vedas can be served to one who knows the purpose behind them.

BG 2.47 : Engkau berhak melakukan tugas kewajibanmu yang telah ditetapkan, tetapi engkau tidak berhak atas hasil perbuatan. Jangan menganggap dirimu penyebab hasil kegiatanmu, dan jangan terikat pada kebiasaan tidak melakukan kewajibanmu. 
Bg 2.47 — You have a right to perform your prescribed duty, but you are not entitled to the fruits of action. Never consider yourself the cause of the results of your activities, and never be attached to not doing your duty.

BG 2.48 : Wahai Arjuna, lakukanlah kewajibanmu dengan sikap seimbang, lepaskanlah segala ikatan terhadap sukses maupun kegagalan. Sikap seimbang seperti itu disebut yoga. 
Bg 2.48 — Perform your duty equipoised, O Arjuna, abandoning all attachment to success or failure. Such equanimity is called yoga.

BG 2.49 : Wahai dhanañjaya, jauhilah segala kegiatan yang menjijikkan melalui bhakti dan dengan kesadaran seperti itu serahkanlah dirimu kepada Tuhan Yang Maha Esa. Orang yang ingin menikmati hasil dari pekerjaannya adalah orang pelit.
Bg 2.49 — O Dhanañjaya, keep all abominable activities far distant by devotional service, and in that consciousness surrender unto the Lord. Those who want to enjoy the fruits of their work are misers.

BG 2.50 : Orang yang menekuni bhakti membebaskan Diri-Nya dari perbuatan yang baik dan buruk bahkan dalam kehidupan ini pun. Karena itu, berusahalah untuk yoga, ilmu segala pekerjaan. 
Bg 2.50 — A man engaged in devotional service rids himself of both good and bad reactions even in this life. Therefore strive for yoga, which is the art of all work.

BG 2.51 : Dengan menekuni bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa seperti itu, resi-resi yang mulia dan penyembah-penyembah membebaskan diri dari hasil pekerjaan di dunia material. Dengan cara demikian mereka dibebaskan dari perputaran kelahiran dan kematian dan mencapai keadaan di luar segala kesengsaraan [dengan kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa]. 
Bg 2.51 — By thus engaging in devotional service to the Lord, great sages or devotees free themselves from the results of work in the material world. In this way they become free from the cycle of birth and death and attain the state beyond all miseries [by going back to Godhead].

BG 2.52 : Bila kecerdasanmu sudah keluar dari hutan khayalan yang lebat, engkau akan acuh terhadap segala sesuatu yang sudah didengar dan segala sesuatu yang akan didengar.
Bg 2.52 — When your intelligence has passed out of the dense forest of delusion, you shall become indifferent to all that has been heard and all that is to be heard.

BG 2.53 : Bila pikiranmu tidak goyah lagi karena bahasa kiasan Veda, dan pikiran mantap dalam semadi keinsafan diri, maka engkau sudah mencapai kesadaran rohani.
Bg 2.53 — When your mind is no longer disturbed by the flowery language of the Vedas, and when it remains fixed in the trance of self-realization, then you will have attained the divine consciousness.

BG 2.54 : Arjuna berkata: O Krishna, bagaimanakah ciri-ciri orang yang kesadarannya sudah khusuk dalam kerohanian seperti itu? bagaimana cara bicaranya serta bagaimana bahasanya? Dan bagaimana ia duduk dan bagaimana ia berjalan? 
Bg 2.54 — Arjuna said: O Kṛṣṇa, what are the symptoms of one whose consciousness is thus merged in transcendence? How does he speak, and what is his language? How does he sit, and how does he walk?

BG 2.55 : Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda: O Pārtha, bila seseorang meninggalkan segala jenis keinginan untuk kepuasan indera-indera, yang muncul dari tafsiran pikiran, dan bila pikirannya yang sudah disucikan dengan cara seperti itu hanya puas dalam sang diri, dikatakan ia sudah berada dalam kesadaran rohani yang murni. 
Bg 2.55 — The Supreme Personality of Godhead said: O Pārtha, when a man gives up all varieties of desire for sense gratification, which arise from mental concoction, and when his mind, thus purified, finds satisfaction in the self alone, then he is said to be in pure transcendental consciousness.

BG 2.56 : Orang yang pikirannya tidak goyah bahkan di tengah-tengah tiga jenis kesengsaraan, tidak gembira pada waktu ada kebahagiaan, dan bebas dari ikatan, rasa takut dan marah, disebut resi yang mantap dalam pikirannya. 
Bg 2.56 — One who is not disturbed in mind even amidst the threefold miseries or elated when there is happiness, and who is free from attachment, fear and anger, is called a sage of steady mind.

BG 2.57 : Di dunia material, orang yang tidak dipengaruhi oleh hal yang baik dan hal yang buruk yang diperolehnya, dan tidak memuji maupun mengejeknya, sudah mantap dengan teguh dalam pengetahuan yang sempurna. 
Bg 2.57 — In the material world, one who is unaffected by whatever good or evil he may obtain, neither praising it nor despising it, is firmly fixed in perfect knowledge.

BG 2.58 : Orang yang dapat menarik indera-inderanya dari obyek-obyek indera, bagaikan kurakura yang menarik kakinya ke dalam cangkangnya, mantap dengan teguh dalam kesadaran yang sempurna. 
Bg 2.58 — One who is able to withdraw his senses from sense objects, as the tortoise draws its limbs within the shell, is firmly fixed in perfect consciousness.
BG 2.59 : Barangkali kepuasan indera-indera sang roh yang berada dalam badan dibatasi, walaupun keinginan terhadap obyek-obyek indera tetap ada. Tetapi bila ia menghentikan kesibukan seperti itu dengan mengalami rasa yang lebih tinggi, kesadarannya menjadi mantap. 
Bg 2.59 — Though the embodied soul may be restricted from sense enjoyment, the taste for sense objects remains. But, ceasing such engagements by experiencing a higher taste, he is fixed in consciousness.

BG 2.60 : Wahai Arjuna, alangkah kuat dan bergeloranya indera-indera sehingga pikiran orang bijaksana yang sedang berusaha untuk mengendalikan indera-inderanya pun dibawa lari dengan paksa oleh indera-indera itu. 
Bg 2.60 — The senses are so strong and impetuous, O Arjuna, that they forcibly carry away the mind even of a man of discrimination who is endeavoring to control them.

BG 2.61 : Orang yang mengekang dan mengendalikan indera-indera sepenuhnya dan memusatkan kesadarannya sepenuhnya kepada-Ku, dikenal sebagai orang yang mempunyai kecerdasan yang mantap. 
Bg 2.61 — One who restrains his senses, keeping them under full control, and fixes his consciousness upon Me, is known as a man of steady intelligence.

BG 2.62 : Selama seseorang merenungkan obyek-obyek indera-indera, ikatan terhadap obyek-obyek indera itu berkembang. Dari ikatan seperti itu berkembanglah hawa nafsu, dan dari hawa nafsu timbullah amarah. 
Bg 2.62 — While contemplating the objects of the senses, a person develops attachment for them, and from such attachment lust develops, and from lust anger arises.

BG 2.63 : Dari amarah timbullah khayalan yang lengkap, dari khayalan menyebabkan ingatan bingung. Bila ingatan bingung, kecerdasan hilang, bila kecerdasan hilang, seseorang jatuh lagi ke dalam lautan material.
Bg 2.63 — From anger, complete delusion arises, and from delusion bewilderment of memory. When memory is bewildered, intelligence is lost, and when intelligence is lost one falls down again into the material pool.

BG 2.64 : Tetapi orang yang sudah bebas dari segala ikatan dan rasa tidak suka serta sanggup mengendalikan indera-indera melalui prinsip-prinsip kebebasan yang teratur dapat memperoleh karunia sepenuhnya dari Tuhan. 
Bg 2.64 — But a person free from all attachment and aversion and able to control his senses through regulative principles of freedom can obtain the complete mercy of the Lord.

BG 2.65 : Tiga jenis kesengsaraan kehidupan material tidak ada lagi pada orang yang puas seperti itu [dalam kesadaran Krishna]: dengan kesadaran yang puas seperti itu, kecerdasan seseorang mantap dalam waktu singkat.
Bg 2.65 — For one thus satisfied [in Kṛṣṇa consciousness], the threefold miseries of material existence exist no longer; in such satisfied consciousness, one’s intelligence is soon well established.

BG 2.66 : Orang yang tidak mempunyai hubungan dengan Yang Maha Kuasa dalam kesadaran Krishna] tidak mungkin memiliki kecerdasan rohani maupun pikiran yang mantap. Tanpa kecerdasan rohani dan pikiran yang mantap tidak mungkin ada kedamaian. Tanpa kedamaian, bagaimana mungkin ada kebahagiaan? 
Bg 2.66 — One who is not connected with the Supreme [in Kṛṣṇa consciousness] can have neither transcendental intelligence nor a steady mind, without which there is no possibility of peace. And how can there be any happiness without peace?

BG 2.67 : Seperti perahu yang berada pada permukaan air dibawa lari oleh angin kencang, kecerdasan seseorang dapat dilarikan bahkan oleh satu saja di antara indera-indera yang mengembara dan menjadi titik pusat untuk pikiran. 
Bg 2.67 — As a strong wind sweeps away a boat on the water, even one of the roaming senses on which the mind focuses can carry away a man’s intelligence.

BG 2.68 : Karena itu, orang yang indera-inderanya terkekang dari obyek-obyek nya pasti mempunyai kecerdasan yang mantap, wahai yang berlengan perkasa 
Bg 2.68 — Therefore, O mighty-armed, one whose senses are restrained from their objects is certainly of steady intelligence.

BG 2.69 : Malam hari bagi semua makhluk adalah waktu sadar bagi orang yang mengendalikan diri, dan waktu sadar bagi semua makhluk adalah malam hari bagi resi yang mawas diri. 
Bg 2.69 — What is night for all beings is the time of awakening for the self-controlled; and the time of awakening for all beings is night for the introspective sage.

BG 2.70 : Hanya orang yang tidak terganggu oleh arus keinginan yang mengalir terus menerus yang masuk bagaikan sungai-sungai ke dalam lautan, yang senantiasa diisi tetapi selalu tetap tenang, dapat mencapai kedamaian. Bukan orang yang berusaha memuaskan keinginan itu yang dapat mencapai kedamaian. 
Bg 2.70 — A person who is not disturbed by the incessant flow of desires – that enter like rivers into the ocean, which is ever being filled but is always still – can alone achieve peace, and not the man who strives to satisfy such desires.

BG 2.71 : Hanya orang yang sudah meninggalkan segala jenis keinginan untuk kepuasan indera-indera, hidup bebas dari keinginan, sudah meninggalkan segala rasa ingin memiliki sesuatu dan bebas dari keakuan palsu dapat mencapai kedamaian yang sejati. 
Bg 2.71 — A person who has given up all desires for sense gratification, who lives free from desires, who has given up all sense of proprietorship and is devoid of false ego – he alone can attain real peace.

BG 2.72 : Itulah cara hidup yang suci dan rohani. Sesudah mencapai kehidupan seperti itu, seseorang tidak dibingungkan. Kalau seseorang mantap seperti itu bahkan pada saat kematian sekalipun, ia dapat masuk ke kerajaan Tuhan. 
Bg 2.72 — That is the way of the spiritual and godly life, after attaining which a man is not bewildered. If one is thus situated even at the hour of death, one can enter into the kingdom of God.






Post a Comment

Sanatana Dharma Indonesia memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk saling berbagi Pengetahuan Kerohanian. Silahkan memberikan masukan positif yang membangun demi kemajuan rohani kita bersama semuanya. Terima kasih atas kunjungan Anda.

Post a Comment

Sanatana Dharma Indonesia memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk saling berbagi Pengetahuan Kerohanian. Silahkan memberikan masukan positif yang membangun demi kemajuan rohani kita bersama semuanya. Terima kasih atas kunjungan Anda.

Ads

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

  • Hare Krishna

    Hare Krishna

Please SMS/WhatsApp or Call Mahanila Store:

WhatsApp SMS

Link menuju sms plus no HP dan body terisi Link menuju sms body terisi Link Telpon Link Telpon(call me)

Admin Control Panel

New Post | Settings | Change Layout | Edit HTML | Moderate Comments | Sign Out

 

Horizontal Random Posts


Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare

New Crosscol Bottom



Mari Kita Saling Membantu Misi Srila Prabhupada Dengan Menyebarkan Buku-buku Rohani

Semua Buku Ini Dapat Dipesan Di MAHANILA STORE HTTP://MAHANILASTORE.BLOGSPOT.COM

Hubungi: Mahanila Das di HP/WA: 0812-7740-3909

Mahanila Store

Bhagavad Gita.

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

Krishna Jilid 3

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

Brahmacari

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

Usaha Mencari Pembebasan

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

Upadesamrta

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

A Second Chance

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Dengan Membaca Buku-buku Karya Srila Prabhupada Kita Akan Mendapatkan Pemahaman Spiritual Yang Lebih Mendalam

Semua Buku Ini Dapat Dipesan Di MAHANILA STORE HTTP://MAHANILASTORE.BLOGSPOT.COM

Hubungi: Mahanila Das di HP/WA: 0812-7740-3909

Mahanila Store

Bhagavad Gita.

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

Sri Caitanya Caritamrta

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

Kesempurnaan Yoga

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

Gita Mahamatya

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

Upadesamrta

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

Mahanila Store

A Second Chance

Mahanila Store (Sahabat Belanja Anda)

DAPATKAN KOLEKSI BUKU TERBARU KAMI

MAHANILA STORE (SAHABAT BELANJA ANDA)

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

DAFTAR BUKU-BUKU TERLARIS

TELAH TERJUAL DI DISELURUH INDONESIA

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Avatara

Mahanila Store

Mahanila Store

Di Luar Kelahiran dan Kematian

Sahabat Belanja Anda

Mahanila Store

Dharma Menurut Veda

Mahanila Store

Mahanila Store

Mahanila Store

Sahabat Belanja Anda

Today Quotes

Srimad Bhagavad-gita

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

Iklan Kolom 1

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

Caitanya Caritamrta

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

Iklan Kolom 2

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

The Nectar Of Devotion

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

Iklan Kolom 3

Mahanila Store Mahanila Store Mahanila Store

A Second Chance

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

Iklan Kolom 4

Kharisma Computer HP/WA : 081277403909 (Mahanila das)

Related Posts

Tambahan Crosscol Bawah

he krishna karuna-sindho dina-bandho jagat-pate gopesa gopika-kanta radha-kanta namo 'stu te
O Sri Krishna yang hamba cintai, Andalah kawan bagi orang yang berdukacita, Andalah sumber ciptaan. Andalah tuan bagi para gopi dan Andalah yang mencintai Radharani. Hamba bersujud dengan hormat kepada Anda.


Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare

Bouncing ball Bouncing ball Bouncing ball Sanatana Dharma Indonesia Visit Mahanila Store at http://mahanilastore.blogspot.com
[Mahanila].. [Mahanila Store].. [Sanatana Dharma Indonesia].. [Mahanila Rent Car Batam].. [Cakadola Store].. [Sadhu Guru Sastra].. [Nityam Bhagavata Sevaya]
[Cara Belanja].. [Kontak].. [About Us].. [Testimonial]..
Silahkan Preview Website Favorit Anda!

Copyright © 2013-17 Sanatana Dharma Indonesia. All Rights Reserved.